Petani Aksara

Meluruskan Niat Menulis

***

Fto : fontbundleDotNet

***

Sosoknya mendadak muncul di layar laptop yang masih kosong.  Belum satu katapun sanggup kutorehkan di atas layarnya yang berdebu. Aku memang sedang galau, mencari makna dari kegiatan menulis selama ini. Sekadar kontemplasi, meluruskan niat menulis. 

 “Jika kau punya lima aksara dalam genggaman. H-R-A-M-A; apa yang ingin kau tulis?” 

Dua menit.

Belum bisa kujawab pertanyaan sederhana itu. Kaget melihat sosoknya yang sama sekali berbeda. Dia bukan Si Hyde yang aku kenal.  Sosok kekanakan dan nakal yang sembunyi dalam aliran darahku. 

Malam ini dia berubah, berpeci dan baju koko dengan cahaya kearifan yang bersinar dari sorot matanya. 

“Haram,” jawabku asal. 

“Coba lagi! Kata yang lebih baik.” Tangan kanannya dia letakkan di dada kiri saat meminta. 

“Marah.” Itu kata lain yang spontan meluncur dari mulutku.

Bola matanya membesar.  Rahangnya kaku, “Bodoh! Tidakkah kau bisa menyusun kata yang lebih baik. Yang menyenangkan pembacamu.”

Aku menggalang. 

“Ramah,” ucapnya, “itu kata yang lebih baik dan akan membuat bahagia pembaca.”

Tanpa diminta dia melanjutkan ucapannya. 

“Aksara adalah benda mati. Ibarat lilin yang bisa kamu bentuk jadi apa saja.

Aksara bisa melahirkan angkara. Aksara bisa menumbuhkan asmara. Aksara bisa menelurkan nestapa, juga malapetaka buat penulis dan pembacanya.”

Aku masih diam. 

Sosok yang mendadak bawel itu bicara lagi. “Pernahkah membayangkan jadi petani saat memegang pensil, atau ketika duduk dengan jemari gemetar di atas keyboard laptopmu?” 

Aku menggeleng. Mungkinkah ia menanyakan untuk apa aku menulis?

“Pinsil dan keyboard adalah cangkul. Kertas atau monitor laptop adalah ladangmu. Kamu dan temanmu – kalian para penulis adalah petani yang menggenggam benih. Dua puluh enam benih yang bisa kalian tanam dan berbuah apa saja. 

Aksara yang sama bisa melahirkan kata yang berbeda di tangan setiap orang. Pasti bisa! Dua puluh enam abjad itu ibarat benih di tangan petani.  Kalian para penulis adalah petani,  benih adalah aksara yang bisa jadi apa saja ditanganmu.

Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat menghadap laptop?”

Aku masih melongo.  Memberi isyarat agar dia melanjutkan ceramahnya. 

“Karya tulis kita adalah kebun  yang kelak akan dipanen. Ada tanaman yang bisa panen dalam waktu singkat.  Yang lain bisa dipetik hasilnya dalam jangka panjang. Mungkin cuma berupa deretan like dan komen yang membuat cuping hidungmu membesar.  Bisa juga, jadi lembaran rupiah yang menambah tebal isi kantongmu. 

Jangan mimpi bisa memanen apel yang ranum, jika  membiarkan kebunmu kosong.  Berhentilah berharap. Ladang kosong cuma akan ditimbuhi rumput teki dan alang-alang.” Hyde menunjuk hidungku. 

Kalimatnya menohok jantung, menerbitkan ngilu di ulu hati. 

Itu bukan orang lain. Tapi, aku yang tak pernah lagi menebar benih di kebun. 

“Karyamu adalah kebunmu, yang akan terus tumbuh. Benih apapun yang kau sebar akan kau panen. Bisa kaktus berduri,  atau buah apel yang lezat.”

***

“Pernah dengar tentang tiga abjad dalam kehidupan?”

Aku menggeleng, “Tidak! Sama sekali belum pernah.”

Dia mengernyitkan dahi.   Bingung karena manusia setua aku tak pernah mendengar nasihat bijak itu. 

“Usia manusia itu sangat pendek.  Cuma bisa dijelaskan dalam tiga huruf B-C-D …

Hidup dimulai dengan B –  itulah Birth, saat kau lahir ke dunia.  Kemudian akan berakhir dengan D, Death – kematian! Sependek itu, anakku.”

Panggilan itu membuatku bingung. Sosok bodoh dan penghasut itu memanggilku dengan panggilan ‘Anakku”.  Aku sudah begitu jauh tertinggal. Dua minggu puasa sudah membentuknya jadi sosok yang bijaksana. Aku?  Masih bebal dan terpenjara kegalauan. 

“Masih ada satu abjad yang belum …  ehhhhhm, guru ceritakan. Antara B dan D ada huruf C?” tanyaku

Dia menggeser pantatnya, “Aku tau arah pertanyaanmu! C itu artinya Choice. Antara hidup dan mati,  kamu banyak punya pilihan. Jadi orang baik atau sebaliknya. Itu sepenuhnya pilihanmu. Termasuk menulis apa yang ingin kau tulis. Allah memberikan kita kebebasan untuk memilih setelah mengabarkan segala konsekuensi pilihanmu. Sorga atau Neraka.”

Aku masih tepekur. Belum sanggup menemukan satu kata pun.  Kursor di layar monitor berkedip tak sabar. 

Jemariku begitu lincah saat menulis demi komen dan like.  Ketika aku memurnikan niat karena Allah, entah mengapa, jemari jadi kaku.

Trm. 28. 08.16

Iklan

3 pemikiran pada “Petani Aksara

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s