Menghadapi Pengeluh

image

Ketukan kasar di pintu kaca, mengalihkan perhatian saya dari layar monitor. Titi Suparti sudah menghempaskan pantatnya di atas kursi biru tua sebelum saya persilahkan.

Sejawat kantor lebih suka memanggilnya Titi Tweety karena sifatnya yang cerewet.

“Pak,” Itu kata pertama yang meluncur dari bibir yang tak lagi tirus. Keringat membuat pemerah bibirnya luntur, “nyebelin banget, deh! Direktur minta saya membuat ulang laporan bulan ini”

“Dicermati aja.”

“Tapi saya udah periksa ulang, Pak. Belum ketemu salahnya di mana.”

“Diamati lagi.”

“Hadewwwwh, pusing pala berbie. Di rumah gak sempat sarapan. Jalanan macet. AC mobil mati. Sekarang harus periksa kerjaan lagi. Bettttte!

“Dinikmati aja.”

“Tapi, Pak …. ”

“Mati aja!”

***
Pernah menghadapi pengeluh akut seperti Titi Tweety?

Mungkin anda tidak sekasar adegan fiktif di atas saat menghadapi mereka. Semoga tidak.

Sayangnya, kita tak pernah bisa lepas dari model sahabat seperti Titi. Bahkan, Saya dan pembaca sendiri pun diciptakan untuk jadi pengeluh. Nah, lho!

Silahkan protes, tapi baca dulu ayat berikut :

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al Ma’arij: 19-21).

Jika kita tidak bisa lepas dari ‘factory default’ seperti ini,  cobalah lebih bijak menghadapi pengeluh. Berikan dukungan seperlunya. Jangan berlebihan karena justru akan membuat mereka susah berubah.

Buat saya dan sahabat yang masih sering mengumbar keluhan.  Temukan obatnya dari Sang Maha Penyembuh lewat lanjutan ayat tadi, “kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu senantiasa mengerjakannya”. (Al Ma’arij: 22-23).”

Sementara menunggu ketenangan yang diturunkan Allah, silahkan mengeluh dengan cara terpuji. Mengakui kelemahan diri, mengungkap kesulitan hidup, dan mohon jalan keluar pada-NYA.

Masih mengeluh juga?!

Camkan nasihat saya.

“Hai sahabat yang lebih suka mengeluh daripada berpeluh, berkacalah pada sapi.
Dia tak pernah mengeluh walau kerja keras berpeluh.”
Lhaaaa … Iyaaaalah, wong dia cuma bisa melenguh.

Trm. 19.05.16

Iklan

2 pemikiran pada “Menghadapi Pengeluh

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s