Pilihan Hidup

“Anakku, kamu boleh ganti baju, mobil, rumah, atau pekerjaan sesuka kamu. Tapi, ibu gak akan pernah ikhlas jika kamu ganti istrimu yang sekarang.” Itu ucapan ibu yang selalu beliau ulang tiap ada kesempatan ngobrol berdua.
.
Pesan itu pula yang kembali beliau sampaikan,  saat aku terakhir menemuinya. Sebulan sebelum ibu tersungkur di atas sajadahnya. Saat salat malam dan munajat panjang dengan Sang Kekasih. Zat yang menitipkan ruhNYA pada janda ringkih berusia delapan puluh dua tahun tersebut.
.
Sekarang, empat tahun setelah beliau wafat. Aku mengerti betul makna ungkapan, “Our choices in life define our future. We are responsible for our own destiny”
.
Mungkin aku pernah mengambil keputusan yang salah dalam memilih sekolah atau karier. Tapi,  satu hal. Pasti, aku telah memilih pasangan hidup yang tepat.
.
Melihat istri yang sekarang tertidur pulas dengan butiran peluh di pelipisnya. Menjalani peran ganda sebagai istri dan wanita pekerja. Aku yakin, dialah tulang rusukku yang hilang dulu. Menggenapkan usaha untuk menjalani hidup di dunia dan akhirat.
.
Memandang  wajahnya yang damai, aku yakin Almarhum ibu menitipkan doa untuk kesehatan dia. Memintakan istighfar pada Allah untuk kesalahan dan kekhilafan  menantu kesayangannya.
.
Semoga kelak,  beberapa helai rambut putih yang mulai tumbuh di kepalanya menjadi saksi atas amal baik buat suami dan darah dagingnya kelak. Dua anakku yang juga sangat menyintainya.
.
Malam ini,  aku kembali menambahkan kopi ke dalam cangkir, agar bisa tetap terjaga untuk menikmati damai wajahnya dalam tidur.
.
Trm. 16.02.16

Iklan

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s