Sorga dan Piring Kotor

piring kotor

Gambar dari EksikloDotCom

Umi sedang mencuci beberapa piring dan gelas kotor ketika Ayumi, putri kecilku menghampirinya di dapur. Gadis kecil ini memang senang membantu ibunya mengerjakan beberapa pekerjaan rumah.

Usianya baru lima tahun, tapi anak bungsuku yang  berpipi ranum ini luar biasa cerdas.  Aku sering lupa usia dia yang sebenarnya saat berbicara dengan dia.

“Umi … kok cara nyucinya beda-beda, sih! Ada yang pake busa. Ada juga yang harus di gosok dulu pake kawat itu?”

“Kan tergantung kotorannya, Sayang,” Umi menghentikan kegiatannya sejenak, “gelas abi bekas minum air putih ini cukup disabuni sedikit terus dibilas. Kalo piring bekas kamu makan tadi, harus digosok agak kuat supaya kotorannya hilang.”

“Terus kalo penggorengan dan panci tadi, kenapa harus pake sikat kawat, Mi?” tanya Yumi lagi. Begitu biasanya aku memanggil gadis lucu itu.

Umi menyingkirkan beberapa buah piring sebelum menjawab.

“Panci dan penggorengan itu kotor sekali, Sayang,” Umi menujukkan pantat panci gosong yang sedang dia cuci, “coba liat ini! Umi harus menggosoknya dengan sabut kawat. Kadang harus pake abu gosok biar kotorannya hilang.”

Ayumi mengangguk lucu, “Owhh … gitu. Yumi ngerti sekarang.”

Tanpa diminta, tangan mungilnya meraih beberapa piring dan memasukkannya ke dalam rak piring aluminium di sudut dapur.

“Eeehhh … jangan Sayang. Yang masih kotor itu jangan dimasukin rak piring.” cegah Umi.

“Yumi kan mau bantuin Umi. Memangg gak boleh?”

Umi mencubit gemas pipi putrinya setelah lebih dulu mengeringkan tangannya, ““Boleh Sayang, tapi kamu gak boleh mencampur piring bersih dengan yang kotor. Rak piring itu khusus untuk perabot kita yang sudah bersih.”

“Memang kenapa sih, Mi?” Bola mata beningnya membulat penuh rasa ingin tahu.

“Piring, gelas, dan perabot yang masih kotor gak boleh dicampur dengan yang bersih karena akan mengotori yang lain,” Umi meninggalkan cuciannya beberapa saat.  Membantu putri kecilnya membereskan piring, “supaya perabot kotor itu pantas berada di sini, mereka harus dibersihkan terlebih dahulu.”

Beberapa buah piring dan gelas bersih berpindah ke dalam lemari.

“Ayo bantu Umi nyuci lagi.”

Umi kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara pikirannya ada di tempat lain.  Menerawang jauh. Teringat Pak Rustam, Ayahnya yang sedang sakit keras di Bogor. Sepuluh tahun sudah tubuhnya yang renta di gerogoti berbagai penyakit.  Paru-paru basah, Reumatik dan jantung.

Ketika dia menengoknya minggu lalu, dia bisa merasakan beratnya penderitaan lelaki yang sudah membesarkannya tersebut.  Tak ada keluhan. Tak ada rintihan, tapi dari raut mukanya yang meringis, dia tahu pasti, betapa berat rasa sakit yang sedang dirasakan lelaki itu.

Praaanggg ….

Sebuah piring lepas dari genggamannya, pecah berkeping di atas bak cucian, “Ayu … kamu ke depan dulu sayang. Sana temanin Abi di ruang ruang denpan.” Khawatir serpihan piring pecah melukai anaknya, Umi meminta putrinya menjauh.

***

Obrolan istri dan putriku tadi mengingatkanku pada percakapan dengan mertua Pak Rustam saat menjenguknya minggu lalu. Setiap kutanyakan kondisi penyakitnya, beliau selalu menjawab, “Gak apa-apa, Nak. Bapak cuma sedang dicuci Allah.”

Sejenak aku singkirkan buku dari genggaman, mendapati Ayumi menghambur ke atas pangkuan.

“Abi mau cerita. Ayumi mau dengerin, gak?”

“Ayah mau dongeng Si Kancil lagi?”

Aku merapikan poni Ayumi yang menutupi matanya, “Bukan sayang. Ini cerita tentang sorga dan piring kotor.”

“Memang di sorga ada piring kotor?”

“Yumi ingat, kenapa Umi melarang kamu memasukkan piring kotor ke lamari tadi?”

“Memang kenapa, Bi?”

“Lemari bagus di dapur itu, cuma buat menyimpang piring yang bersih. Piring kotor tidak boleh dimasukkan ke sana, apalagi dicampur dengan piring yang sudah bersih.”

“Owwwhhh … nanti yang lain ikut kotor, ya?”

“Itu kamu tau. Begitu juga dengan sorga. Sorga diciptakan Allah cuma buat manusia yang bersih. Siapapun yang ingin masuk ke dalamnya, harus bersih dulu dari kotoran. Harus mau dicuci dulu.”

‘Orang kok dicuci? Abi aneh. Bukannya, mandi?”

“Kotoran manusia itu berupa dosa.  Allah terlalu adil untuk menyiksa hambanya tanpa memberikan kesempatan untuk bertaubat atau membersihkan dosa.  Banyak cara Allah membebaskan manusia dari dosa. Salah satunya dengan mencuci dosa-dosa mereka dengan kesulitan hidup, musibah, atau penyakit.” Pipinya yang ranum membuat aku tak tahan untuk menciumnya.

“Ayumi tau kenapa Umi mencuci piring dengan cara yang beda?”

Kening gadis kecil yang tertutup poni terlihat berkerut, “Kata Umi tadi tergantung kotorannya.”

“Betul, Sayang …. Begitu juga cara Allah membersihkan dosa manusia. Besar kecilnya cobaan dan musibah yang diberikan Allah kepada manusia akan membersihkan dosa, jika kita terima dengan ikhlas. Semakin besar musibah, semakin banyak pula dosa yang gugur. Jika sudah bersih, maka kita layak masuk sorga karena sorga cuma untuk orang yang sudah bersih dari dosa.”

“Abi … tadi ada piring yang pecah juga, waktu umi nyuci.”

“Piring pecah itu ibarat umat Allah yang menolak dan berontak saat diberi musibah. Dia  tidak sadar bahwa musibah itu bentuk kasih sayang Allah untuk membersihkan dosanya. Akhirnya dia akan binasa dalam keadaan kotor.”

Obrolan kami terhenti waktu Umi memanggil kami ke ruang makan untuk makan siang bersama.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sorga dan Piring Kotor

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s