Dongeng Tikus Licik

image[/Gambar Dari Kaskus]

Alkisah, di suatu negeri binatang yang bernama Indofauna, tinggal tiga jenis binatang yang bersahabat.

Beruang, binatang kuat yang gagah dan pekerja keras.  Dia hidup makmur dengan tabungan dan deposito yang menumpuk, hasil kerja kerasnya.

Belibis yang  ulet dan  gesit. Dia mampu mengumpulkan hasil kerja kerasnya untuk beli bis tiap tahun. Dia sukses jadi pengusaha bis kota.

Berbeda dari dua temannya, tikus, si buruk rupa yang pemalas tetap miskin. Dia cuma sanggup tinggal di parit dan gorong-gorong. Hari demi hari  dia lalui dengan mengais makanan sisa dan sesekali menggerogoti lumbung makanan temannya.

Suatu pagi di tahun 2012. beruang dan belibis terkejut melihat tikus sudah berkemas. Pertanda dia akan siap-siap pergi ke tempat yang jauh.

“Kus!  Tumben lo pagi-pagi dah rapi, memang mau kemana?” tanya mereka berdua hampir berbarengan.

“Gua mau merantau ke negeri tetangga.  Di negeri Idongengsih sedang banyak pekerjaan untuk mahluk seperti gua,” jawab tikus sambil membetulkan kumisnya yang cuma enam lembar di atas sepasang bibir yang monyong.

“Memang, mahluk pemalas kayak lue, bisa ….”

Sebelum mereka mendengar jawaban dari rasa ingin tahunya, tikus bergegas pergi. Menenteng map kumal warna biru berisi daftar riwayat hidup dan ijazah palsu.

“Gua pergi dulu Brow! Kita liat nanti, siapa yang bisa lebih kaya diantara kita bertiga.” teriak tikus optimis.

Pekerjaan impian di perantauan kelak akan membuatnya lebih kaya dari dua temannya. Paling tidak, itulah yang ada dalam pikiran dia yang dipenuhi iri hati.

***

Suatu pagi yang cerah  di kebun binatang negeri Indofauna. Tepat dua tahun setelah kepergian si Tikus.

Beruang yang sedang sarapan pagi bersama belibis, tiba-tiba saja berteriak tertahan.

“Beib! Coba lu liat siapa yang datang!” Dia menunjuk sosok berdasi yang dikelilingi pengawal. Beib adalah panggilan akrab untuk sahabatnya Belibis. Si jangkung kaki panjang berbulu indah.

“Ahhh … rasanya gua kenal sosok itu, walau lebih klimis dengan setelan yang serba mahal. Mulut yang monyong dan kumis jarang itu ….”

“Gak salah lagi. Itu si Tikus malas, teman kita dulu,” teriak beruang. Ada keterkejutan bersatu dengan rasa kagum melihat sosok tikus, teman mainnya dahulu.

Sesaat kemudian, sosok yang dulu sudah sangat mereka kenal itu sudah ada di antara mereka.

“Huahahaha … Apa gua bilang dulu! Gua sudah jauh lebih makmur dari lo berdua,” ujar tikus, tanpa salam.

“Iya … Gua hampir gak kenal lagi tampang lo, Brow! Kecuali mulut dan kumis lo yang masih jarang kayak dulu.”

“Jangan panggil gua brow lagi. Panggil gua Bapak!”

“Tumben Pak, ada apa jauh-jauh datang ke Indofauna?”

“Kami datang dalam rangka kunjungan kerja untuk studi banding, renovasi dan restrukturisasi kebun binatang untuk menunjang program investasi di negeri kami. Ini bagian dari strategi untuk akselerasi income  bagi peningkatan devisa.” jawab tikus sekenanya.

Bahasa diksi non fiksi gaya Vicky ini memang favorit anggota dewan.

Melihat belibis dan beruang yang bengong melompong seperti keselek batang singkong, tikus melanjutkan kata-katanya.

“Itu bahasa kami. Cara kami berbicara di gedung dewan!”

“Memang kerjaan Bapak Tikus di negeri Indonengsih jadi apa sekarang?”

“Jangan panggil aku Bapak Tikus lagi sekarang! Panggil aku Politikus ….”

Obrolan mereka tiba-tiba terhenti ketika tikus terpekik kaget.

“Cicak! … Cicak! .. jauhkan dia dari sini. Aku paling takut sama mahluk kecil itu!”

Tikus pus berlari ke kandang buaya untuk minta perlindungan, sementara beruang cuma berbisik pelan pada belibis, “Jadi Si Tikus jadi politikus sekarang! Kerjaannya masih seperti dulu. Menggerogoti sawah, ladang, jembatan dan gedung-gedung.”

Semoga saja teman mereka  Sang Cicak, tidak takut dan menyerah pada buaya yang kadang bekerja sama dengan tikus.

***
Trm. 28.08.15

Posted from WordPress for Android

Iklan

5 pemikiran pada “Dongeng Tikus Licik

  1. Maap nih Bang ada ketidakkonsistenan penggunaan nama negeri tempat Tikus mengadu nasib. Di penyebutan pertama negeri Idongengsih tapi yang kedua jadi Indonesia. Hahahaha. Kisahnya mirip banget sama kejadian di Indonesia Bang.

    Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s