Istriku dan Kecantikan Cherry Belle

Kecantikan hati

Picture credit to Google Image

“Mas, Aku cantik gak sih?” tanya istriku saat mematut diri di depan cermin.

Aku diam.

“Paaaah, kok gak jawab. Rambutku bagus, gak?”

Aku sama sekali tidak menoleh karena asyik tenggelam di halaman tengah buku yang sedang dibaca. Aku juga bisa menebak kecemasan macam apa yang sedang melanda pikiran dan rasa percaya dirinya.

“Sayang! Badanku masih bagus, gak?” Sekali ini dia menghapiriku, dalam balutan busana kerja warna merah marun.

Alih-alih menjawab, aku malah balik bertanya, “Tumben, kamu ngajuin pertanyaan aneh macem gitu. Sudah gak pede lagi?”

“Aku cuma takut kamu seperti yang lain, Pah! Seperti aktor yang cerai karena terpikat wanita lain atau ustadz yang katanya poligami karena badan istrinya mulai gendut.” Dia juga menyebutkan beberapa nama yang sering didengar dari infotainmen.

“Kamu masih cantik, Kok! Jauh lebih menarik dari wanita lain.” Kalimat tulus dari hati yang paling dalam. Aku berharap dia bahagia mendengarnya.

Dia mendekat. Melepas dan menggigit tangkai kacamata diantara dua bibir, “Haiyaaaah gombal lagi.” Dari bibirnya yang maju model ‘duckface’ yang digilai penggemar selfie, aku tahu kalau dia ragu dengan jawaban tadi.

“Aku kan sudah gak cantik lagi. Beberapa helai rambut mulai beruban. Kulit muka mulai kendur. Badan melar. Plek hitam di wajah ….”

Belum usai kalimat itu meluncur dari mulutnya, aku memotong, “Memang menurutmu, wanita cantik itu seperti apa sih?”

“Yang rambutnya hitam lurus, kulit kencang, putih, badan langsing tanpa lemak, tubuhnya wangi.”

“Itu kecantikan palsu,Mah!”

Kali ini ku genggam tangannya, berusaha meyakinkan, bahwa kriteria tentang kecantikan yang dia pahami dan beredar di tengah masyarakat adalah persepsi yang salah. Persepsi yang dihembuskan para produsen kosmetik. Persepsi yang selalu berubah seiring perkembangan jaman.

Dia menyilangkan jemarinya dengan kepala makin condong ke arah ku. Aku tahu pasti, ucapan tentang kecantikan palsu tadi membuatnya penasaran.

“Gak pernah ada yang baku tentang kecantikan wanita menurut pandangan manusia,” Dengan tatapan dalam dan lembut kedalam kedua bola matanya, “Wanita cantik adalah yang berambut hitam dan tebal, itu menurut iklan shampo; Wanita cantik adalah yang berkulit putih dan bening, itu menurut iklam cream pemutih wajah; Wanita cantik adalah yang memiliki pinggang seperti gitar Spanyol, itu menurut iklan obat pelangsing.”

Dia cuma menggigit kuku jemarinya yang mulai keriput, “Tapi kenyataannya memang seperti itu, kan?”

“Persepsi manusia tentang kecantikan selalu berubah. Ada masyarakat kuno yang memandang wanita berkuping lebar adalah wanita yang cantik, mereka berusaha melakukan berbagai cara untuk melebarkan kupingnya. Sebagian memandang wanita dengan leher panjang adalah wanita yang pastas jadi idaman. Tidak kalah banyaknya yang memadang wanita gendut adalah makhluk paling cantik karena melambangkan kesuburan.”

“Tapi itu dulu, Pah!”

“Coba tebak. Wanita seperti apa yang cantik menurut para ‘fashion designer’?”

“Wanita yang super kurus, berdada rata, dan rahang menonjol.” jawabnya cepat.

“Nah … kamu tahu. Itu berlawanan dengan persepsi wanita cantik di mata para lelaki, kan?”

“Tapi, kenapa banyak orang yang begitu terobsesi dengan wajah ganteng dan cantik.”

“Soal itu, kan Allah sudah jelas menyampaikannya, ‘Dan dijadikan indah pada pandangan manusia’ … jadi tidak indah dalam arti yang sesungguhnya,” Tidak lupa aku mengutip salah satu ayat Al-Quran tentang hal itu, “malah Allah sudah memperingatkan kita …”

“Peringatan?”

“Kamu tau surat Al-Munafiqun ayat empat, kan?”

Sebelum dia menjawab aku sudah melanjutkan ucapanku, “dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka membuatmu kagum. Dan Jika mereka berkata-kata, kamu mendengarkan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.”

Ku lirik jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul enam limabelas menit, “Eeehhh … gak telat nanti ke kantor?”

“Habisnya aku masih penasaran tentang kriteria wanita cantik yang sebenarnya. Lanjutin, Mas” pintanya penasaran.

“Apa lagi yang kamu pengen tau?”

“Yaaaa … kriteria wanita cantik tadi.”

“Persis seperti lagu Cherry Belle!” Sengaja aku bikin dia penasaran dengan senyum setengah meledek.

“Koplaaaaaaaaak! Becanda lagi kayak biasa deh. Sekali ini aku serius.”

Keningku berkerut, mengingat salah satu lagu girl band wanita tersebut.

“Kamu cantik … cantik dari hatimuuuuu.”

Mukanya menyiratkan keraguan

“Itu sesuai dengan yang disampaikan Rasulullah, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian.”[1]

“Owwhhhh … kalo aku gimana, Mas. Masih bisa dibilang cantik?”

“Kamu adalah yang tercantik!”

Dia tergelak dan mencubit pinggangku, “Duassssar! Raja gombalnya mulai lagi.”

“Kalo kamu terus bersikap baik dan bertahan jadi istri salehah insyaAllah akan terus cantik,” ungkapku serius, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita salehah.”[2]

Semoga saja, tulisan pendek ini jadi pengobat sahabat wanita yang cemas dan galau karena ter-intimidasi pelaku pasar dan media tentang definisi wanita cantik.

***
Trm, 15.09.15

1. HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah
2. HR. Muslim, Ibnu Majah, dan An-Nasai

Iklan

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s