Sosial Media dalam Kehidupan Kita

Sikap Buruk yang Dipicu Pemakaian Sosial Media

#Muhasabah

Likes and comments

Sumber gambar : desicomments.com

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, Orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun : 1 – 3)

Ada saat, di mana setiap saya menyentuh barisan aksara pada keypad handphone, timbul tarik menarik. Keinginan menyampaikan kebenaran, melawan rasa malu karena saya sangat jauh dari sosok baik yang sering saya tulis.

Sungguh, pemilik jemari yang mengetik ayat-ayat ini sama sekali berbeda dan mungkin lebih buruk dari kebaikan yang sering saya tulis di beranda. Terlebih, saat saya membaca peringatan Allah pada kalam berikut :

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saf : 2-3)

Tetapi, keinginan mengingatkan dan menyampaikan kebaikan kembali menguat setiap saya membaca ayat berikut;

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah, dan kalau sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada orang2 yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang2 fasik)” ( QS. Ali Imran : 110)

Melihat tulisan-tulisan saya yang terdahulu, saya sadar bahwa keinginan memperoleh ‘Like’ dan ‘Comment’ yang banyak pada tulisan di Blog maupun sosial media, sering membuat saya lepas kendali dan terjebak pada perbuatan yang dimurkai Allah. Begitu banyak contoh kejadian yang menjerumuskan dari pemakaian Medsos yang kurang bijak.

Semoga kutipan dari ayat-ayat Quran dan hadits berikut, bisa jadi pengingat … khususnya untuk pribadi penulis, sekaligus jadi tali kekang untuk mengendalikan ‘kenakalan-kenakalan’ saya berikutnya.

Hal-hal berikut adalah kebablasan yang sering terjadi, tidak cuma di dunia nyata. Tapi, kerap terjadi dalam interaksi kita di media sosial.

Memelihara Lisan

“Barang siapa yang diam (tidak banyak bicara) maka dia akan selamat” (H.R. At-Tarmizi).

“Barang siapa yang bisa menjamin (keselamatan) antara dua rahangnya (lisan) dan dua kakinya (faraj) maka aku menjamin baginya surga” (H.R. Bukhari).

“Salah satu tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya” (H.R. At-Tarmizi).

Berdebat dan Bertengkar

“Tidaklah sesat suatu kaum (dahulu) setelah Allah menunjuki mereka, kecuali karena mereka suka berdebat atau bertengkar” (H.T. At-Tarmizi).

Dalam sabdanya yang lain, yang diriwayatkan

“Tidak sempurna iman seorang hamba hingga dia meninggalkan pertikaian dan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar” (H.R. Ibnu Abi ad-Dunya).

Melaknat

Kata Anas ra. ”Seseorang pernah dimarahi oleh Baginda Saw. karena melaknat kuda tunggangannya, seraya berkata: wahai Abdullah, jangan engaku berjalan bersama kami di atas tunggangan yang terlaknat”

Mengolok-olok

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah pula perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olokan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Qs. Al hujurat:11)

Ghibah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).” [QS Al Hujurat: 12]

Tulisan tentang pengaruh sosial media dalam kehidupan ini sekedar hasil perenungan penulis sekaligus pengingat saat jemari mulai menyentuh deretan aksara pada keypad hape atau keyboard laptop. Alhamdulillah, jika ada diantara pembaca yang juga bisa memetik manfaatnya.

Mungkin Anda memiliki pengalaman pribadi yang ingin anda tulis pada kolom komentar, Silahkan 😉

BHI
Sahabatmu,
19.08.15

Iklan

3 pemikiran pada “Sosial Media dalam Kehidupan Kita

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s