Mendidik Anak : Belajar dari Pintu yang Retak

pintu rusakSahabat Bepluser yang berkepribadian plus.

Pasti banyak di antara anda yang sudah membaca banyak artikel tentang parenting, seputar masalah mendidik anak. Beberapa diantaranya, ditulis oleh pakar dan ahli dalam bidangnya. Berapa banyak dari tulisan tersebut yang berasal dari pengalaman pribadi?

Ini pengalaman pribadi saya dalam mendidik anak. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik bagi yang sudah berkeluarga maupun yang sedang menanti pasangan hidup.

ooOOoo

Setiap ada kerabat atau sahabat yang berkunjung ke rumah, selalu ada pertanyaan yang mereka ajukan saat melihat pintu kamar tidur anak-anak yang rusak. Pintu tersebut letaknya persis menghadap ruang tamu. Pintu kamar berangka kaso dengan daun pintu triplek, yang sengaja saya biarkan seperti aslinya. Dengan triplek retak dan nyaris bolong.

“Dek, rumahnya sudah direnovasi. Tapi kenapa pintu kamar itu dibiarkan rusak. Gak diganti yang baru?” Kali ini pertanyaan yang sama diajukan oleh Ustadz Latief. Teman sekaligus pengajar pengajian saya.

Lagi-lagi, saya harus menjawab dengan jawaban yang sama. Alasan serupa yang sudah ratusan kali saya ulang.

“Sengaja, Pak. Saya biarkan demikian.”

“Sayang dong, Dek! Jadi merusak pemandangan. Gak enak diliat!”

“Saya sengaja tidak menggantinya, sebagai peringatan,” jawab saya ringan.

“Peringatan?” tanya Ustadz Latief. Keningnya berkerut dengan mata menyipit mengharap jawaban, “terus … kenapa sampai jebol gitu, Dek?”

“Dulu daun pintunya saya tendang, Pak! Saya pernah sangat marah dan kehilangan kesabaran saat menyuruh anak-anak shalat dan tidak dituruti.” jawab saya,  “pintu itu jadi peringatan bahwa saya pernah salah. Mendidik anak-anak terlalu keras dan sering mengedepankan emosi.”

Memandang kembali pintu kamar tersebut, sering membawa saya pada fragmen-fragmen masa lalu. Masa ketika anak-anak masih remaja dan rada sulit diatur. Ketika saya tidak sanggup memperingatkan mereka dengan perkataan yang baik.  Bukan cuma daun pintu. Di dalam kamar tersebut terekam lebih banyak kejadian lain saat saya berusaha mendidik anak dengan cara yang salah. Cara yang kini sering saya sesali.

Dua buah gitar dan beberapa buah handphone pernah saya banting akibat kehilangan kesabaran saat meminta mereka salat. Termasuk sebuah Play Station dan perangkat VCD yang sekarang terongok di sudut kamar.

Lamunan saya terhenti ketika Ustadz Latief kembali berbicara, “Memerintahkan anak untuk sembahyang memang bukan hal yang mudah , Dek!,” ujarnya lembut, “tapi kita juga tidak  boleh sampai kehilangan kesabaran dan akal sehat. Allah tahu … itu hal yang teramat sulit.”

“Allah tahu? Maksud Pak Ustadz?”

Allah sangat tahu keterbatasan hambaNYA, makanya Dia meminta kita bersabar, seperti dalam firman-Nya

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha : 132)

Begitu sulitkah peran orang tua?

Sudah pasti!

Saya sering membaca dari status media sosial milik anak remaja sekarang, “Gua bangga punya orang tua yang pengertian.”

“Orang tua adalah teman terbaik anak-anaknya,” tulis anak yang lain.

Inilah yang jadi dilema.

Keinginan jadi teman terbaik buat anak-anak, sekaligus jadi orang tua yang baik dalam mendidik anak sebagai peran yang sudah d-iamanahkan Allah.

Keinginan jadi teman yang baik buat anak sering membuat kita jadi terlalu permisif, membiarkan mereka melakukan beberapa pelanggaran ringan atas nama kasih sayang dengan harapan membuat mereka merasakan kebahagiaan. Beberapa malah melanggar syar’i seperti membiarkan mereka berdandan di luar koridor agama.

Sementara, menjadi orang tua yang baik dengan menerapkan disiplin keras dan teriak, “Orang tua gak pernah salah. Kalian harus ikut keinginan kami!” lebih sering berakhir dengan deraian air mata dan pertengkaran. Anak remaja kita sedang dalam tahap pencarian diri, mereka belum paham kaidah sebab dan akibat dari setiap tindakannya.

Lantas bagaimana sikap kita?

Tetap bersabar dan terus belajar. Bukankah Allah sudah menjelaskan bahwa, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”( QS. At-Taghabun 64 : 15)

Belajarlah untuk; menjelaskan tanpa kemarahan, memberi contoh dengan tindakan, dan menanamkan kepercayaan tanpa menciptakan ketakutan.

Jika kita tidak bisa jadi sosok ideal sebagai teman sekaligus orang tua yang baik buat anak-anak. Lantas mana yang akan anda pilih?

Mungkin saya belum jadi teman yang baik buat anak-anak. Tapi, saya sudah memilih untuk jadi orang tua yang baik dan akan terus meningkatkan kemampuan dalam mendidik anak dengan belajar dari pintu kamar yang rusak itu

Bagaimana dengan anda?

Saya akan sangat berterima kasih jika diantara pembaca ada yang memiliki pengalaman serupa dan bisa berbagi di kolom komentar.

InsyaAllah saya akan berbagi lagi dengan anda mengenai tiga point diatas; menjelaskan tanpa kemarahan, memberi contoh dengan tindakan, dan menanamkan kepercayaan tanpa menciptakan ketakutan.

Iklan

5 pemikiran pada “Mendidik Anak : Belajar dari Pintu yang Retak

    • Hehe… Makasih Mbak Nurul? Maaf ya kalo salah nyapa. Sudah rada lama vacum dan gak bertegur sapa sama temen2 di WP. Kangen juga sama fiksinya mbak Nur. Saya lagi coba2 rada miksi juga. Klo ngartikel kok kesannya jdi kayak menggurui, ya?

      Suka

  1. Hhmmm ternyata dirimu galaaak hahaa

    Mendidik anak..? Susah..? Betul sekaliii…perlu stok kesabaran yang tidak boleh habis ya Kang.

    Menjadi orang tua sekaligus menjadi sahabat buat barudak… Idealnya begitu ya kang.
    Pandai menempatkan diri, kapan sbg orang tua, kapan menjadi sahabat, nah perlu belajar lagi nih..

    Tulisannya cakep kaaang.. suka pisan, mengingatkan lagi untuk belajar menjadi emak yang bijaksini… kalau bijaksana mah kejauhan meni disana… Hihi

    Suka

      • Oohh iya mantan galak… Hehe

        Tapi galak juga perlu kang..tp nya tong galak-galak teuing kitu.

        Abdi mah galakna teu nyarios kang, ngabetem we..barudak terang tah, kalau emaknya diam saja, berarti mereka ada bikin salah, biasana sok takut2 nyamperin emakna, trs bari nangis minta maaf…baru disitu saya jelaskan knp emaknya marah, sambil pelukkan… Cium keningnya sambil bilang kalau emaknya sayang sekali sama mereka …😊

        Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s