Perpisahan Adalah Kesempatan Untuk Mendapat Pengganti yang Lebih Baik

Perpisahan
Loe … Gue, End!

Adalah kata yang sering terdengar saat berakhirnya sebuah hubungan. Baik antara pasangan yang masih dalam tahap pacaran maupun pasangan yang sudah terikat ikatan suci, ikatan pernikahan. Bukan situasi yang mudah, memang.

Siapa yang bilang perpisahan adalah hal mudah! Ini merupakan situasi tersulit yang akan dijalani orang yang terlibat di dalamnya.

Perpisahan adalah masalah yang maha berat.  Ia adalah akhir, sekaligus awal dari sebuah situasi sulit yang menguras emosi dan mengeringkan airmata. Menanggung kesedihan panjang dan luka menganga yang ditorehkan mantan.

Bantal dan boneka kesayangan jadi basah airmata. Air terasa pahit melilit. Makanan hambar di lidah. Akhir dari sebuah hubungan yang manis tapi sekaligus jadi titik awal di mana kita harus mengelola perasaan yang campur aduk, seperti gado gado yang cuma berisi kangkung alot, buah pare dan cabe rawit dengan kepedasan level sepuluh.

Bagaimana kita memaknai situasi ini. Apakah ini merupakan akhir atau justru jadi awal kesadaran sekaligus sarana untuk menyadari apa yang sebetulnya kita perlukan dalam sebuah hubungan?

Siapapaun akan setuju, perpisahan adalah satu periode berat dalam kehidupan. Bukan cuma melewati malam-malam panjang merasakan torehan sembilu yang meninggalkan rasa sakit akibat perlakuan mantan. Juga titik awal di mana kita harus belajar mengelola perasaan, kesedihan sekaligus membangun pandangan baru tentang cinta, keinginan dan kriteria akan pendamping hidup yang selanjutnya.

Air mata yang mengucur deras, bisa jadi seperti background musik sedih saat kita melakukan introspeksi terhadap kesalahan ketika dulu, memutuskan untuk menerima dia sebagai pasangan hidup.

Meneliti ulang setiap tindakan dan perkataan yang menyebabkan terjadinya kegagalan hubungan. Langkah dan ucapan yang membuat gelombang kebahagiaan ini terhenti dengan sangat menyedihkan. Akhirnya pecah dan melahirkan kenyataan hidup yang pahit.

Semua yang kita lihat cuma  mengingatkan pada sosoknya. Halte bis. Gerbang sekolah. Cafe dan Restoran favorit. Saat berangkat maupun pulang sekolah.

Semua yang kita miliki menampilkan bayangannya. Ruang tidur. Ruang Makan. Sofa Rumah. Saat berangkat maupun pulang kerja.

Musik terdengar muram, Warni warni hilang cemerlangnya. Tiada lagi belaian.  Tak terasa lagi sentuhannya. Makanan kehilangan rasa dan jadi tak menggairahkan.

Aroma parfum cuma mengingatkan kita padanya. Saat hendak tidur maupun terbangun dari tidur. Tak ada apapun kecuali kekosongan yang panjang.

Situasinya akan terasa lebih berat, jika kita merasa tidak punya andil atau kesalahan yang jadi pemicu perpisahan tersebut.  Perpisahan yang mungkin terjadi cuma karena keinginan dan idelisme yang sudah tidak sejalan lagi.

Relung hati yang berisi cinta seolah kosong melompong, hati retak terkoyak, semangat hidup redup dan terbang entah kemana?

Ada banyak penyebab perpisahan. Tetapi, satu hal yang pasti, cinta belum sepenuhnya menghilang.  Bisa jadi kamu adalah pihak yang diputuskan atau justru malah memutuskan hubungan.  Jika cinta kalian adalah cinta sejati, tidak satu pihak pun yang jadi pemenang dalam masalah ini.

Kamu telah berbagi sofa, kenangan, makan siang, dan makan malam. Masing-masing menjadi teman terbaik, orang kepercayaan atau partner. Merasa nyaman saat ada di sebelahnya. Merasa senang dan memupuk saling pengertian. Dimana kita berdua  mulai merencanakan kehidupan, saling memperkenalkan pada keluarga dan membicarakan masa depan bersama.

Dia bukan lagi segalanya bagimu, tapi sudah menjadi belahan hati. Separuh jiwamu, bagian dari hidupmu.

Dan situasinya tiba tiba berubah …

Perhatian berubah jadi ketidak pedulian. Pengertian berubah jadi salah paham. Bahasa cinta kehilangan makna. Komunikasi  kehilangan arti.

Hati yang terhubung tak pernah lagi bisa nyambung, seolah benang emas yang menghubungkan hatimu dan hatinya putus di tengah. Kebahagiaan tiba-tiba memudar. Mata lelah karena airmata.

Kamu sadar bahwa semua tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

Kamu merasa telah berusaha melakukan segala cara untuk bisa didengar. Segala usaha untuk bisa dimengerti… Kamu membuat banyak perubahan dan mengikuti keinginannya. Tapi semua terasa jadi lebih sulit. Kamu seperti tidak lagi mengenalnya lagi. Dia bukan lagi sosok yang dulu kamu kenal, tapi sudah jadi orang lain. Jadi orang asing dalam kehidupanmu.

Dalam situasi seperti ini, kemarahan biasanya cuma sekedar topeng untuk menyembunyikan bopeng rasa sakit dan kesedihan yang tak berkesudahan. Kamu berharap perkaranya menjadi berbeda,  tetapi harapan tinggal harapan. Tak ada tindakan yang bisa dilakukan.

Akhirnya kamu pun ditinggalkan.

Jika situasinya seperti ini, terimalah keadaannya dengan dewasa. Berdiri tegak dengan dada membusung. Sikap negatif cuma akan menorehkan luka yang lebih dalam. Penyesalan yang tidak akan pernah akan membawa kamu kemanapun.

Sadarilah bahwa kemanisan itu sudah berlalu. Kebahagiaan bersamanya sudah lewat.

Perpisahan bukan akhir segalanya. Ia cuma merupakan satu fase kehidupan yang akan membuat kamu lebih dewasa dan kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia.

Iklan

2 pemikiran pada “Perpisahan Adalah Kesempatan Untuk Mendapat Pengganti yang Lebih Baik

  1. gak mudah ya, tapi nanti kalo udah ketemu yang lebih baik baru deh sadar kalau memang perpisahan adalah kesempatan untuk mendapat yang lebih baik…

    salam
    /kayka

    Suka

    • Betul mbak Kay. Yang penting optimis dan selalu berprasangka baik bahwa Allah selalu memberi yang terbaik buat kita. Dan sudah pasti butuh proses yg kadang panjang dan menyakitkan.

      Disukai oleh 1 orang

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s