Cara Menyikapi Ujian Hidup

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)

image

Tiap manusia memiliki cara menyikapi ujian hidup yang berbeda. Reaksi tersebut sangat tergantung kwalitas iman yang bersangkutan. Satu hal yang pasti, orang bisa demikian sabar dan patuh mengikuti saran dan petunjuk dari ahlinya. Sayangnya mereka sering lupa saat memaknai ujian hidup dari Sang Maha Pencipta. Kepasrahan itu bisa direnungkan dari ilustrasi berikut.

Tubuh yang dulu gagah itu, sekarang terkulai pasrah tanpa membantah, manakala dokter menyerahkan sekantung obat untuk penyakitnya. Iya … orang gagah itu sedang mendapat ujian hidup dari Allah berupa penyakit.


“Pak, obat yang ini diminum tiga hari sekali. Yang bulat kuning itu,  rasanya luar biasa pahit. Kadang  ada efek negatif yang bisa membuat rambut rontok.”
ucap dokter muda yang merawatnya. Mungkin baru seusia anak perempuannya yang masih lajang.


“Iya, Dok! Apa lagi yang harus saya lakukan agar cepat sembuh. Mungkin ada pantangan makanan?”
tanya lelaki tua itu penuh rasa ingin tahu.


“Kurangi makan jeroan dan rajin olah raga!”

Pasien itu tidak protes dan menerima seluruh saran dokter dengan sukarela. .

Dia yang biasa kukuh sekarang patuh demi tubuhnya yang terasa rapuh.  Menerima nasihat agar sehat dari dokter yang mengobatinya. Menelan obat pahit yang tentu saja tidak disukainya.  Meninggalkan makanan yang disukai. Juga mengeluarkan sejumlah uang demi kesembuhannya

Sikap menyerah dan seolah memasrahkan hidup pada ahlinya karena dia percaya.

****

Di ruangan lain rumah sakit yang sama. Ujian dari Allah juga sedang menimpa seorang wanita muda.

Seorang wanita elok berdada montok menerima vonis dokter. Kehilangan payudara yang yang sangat dibanggakannya. Kehilangan perhatian. Kehilangan daya tarik. Tak akan ada lagi pandangan takjub yang sering membuatnya ujub, dari para lelaki yang mengagumi kemolekannya.

Kesulitan, rasa sakit, pengorbanan, dan kehilangan sebagian atau seluruh harta. Mungkin juga cinta. Rela dijalani orang demi sesuatu yang lebih baik. Demi kesehatannya. Demi kelangsungan hidupnya. Dibalik itu, jika mereka sadar, ada ujian dari Allah yang sedang menimpa mereka dan hamba Allah yang lain yang sedang terbaring sakit.

Karena mereka percaya. Memasrahkan hidup pada akhlinya.

***

Itu sikap kita saat dihadapkan pada pilihan sakit atau sehat, hidup atau mati.

Bagaimana dengan sikap kita menerima ‘obat pahit’ dari Allah?
Sang Maha Penyembuh, Sang Maha Pemilik kehidupan sekaligus Tuhan kita semua.

Sebagian besar kita cenderung menerima nikmat tanpa syukur dan   menerima musibah tanpa sabar. Lebih buruk lagi, saat musibah melanda, kita gelisah berkeluh kesah. Dengan marah mempertanyakan keadilan Allah seolah kita punya hak untuk mengatur hidup kita sendiri.

Wahai sahabat,

Kita adalah hamba Allah, seperti sering kita akui saat memberikan sumbangan sekedarnya untuk pembangunan musala atau panti yatim. Sayangnya pengakuan posisi sebagai hamba Allah itu sering terlupakan saat ujian datang.

Hamba adalah budak. Bukan tuan.
Bukan pula majikan

Kesulitan hidup adalah cara Allah menguatkan kita.

Musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa kita.

Kepahitan hidup adalah obat.

Kesempitan hidup adalah cara Allah supaya kita lebih merasakan nikmatnya kelapangan.

Ujian hidup adalah sekolah kehidupan yang akan membuat kita lebih baik dan siap menerima ujian yang lebih besar.

Sahabat,

mari kita pahami dengan benar, bahwa ; Ujian berupa penyakit atau kehilangan lainnya merupakan kasih sayang Allah kepada hambanya, seperti halnya ujian saat kita akan naik kelas atau naik jabatan.


Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan.

Semoga tulisan pendek ini bisa membuat kita lebih bijaksana lagi menyikapi ujian hidup dan sadar sepenuhnya bahwa hidup dan mati kita adalah ujian.

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 pemikiran pada “Cara Menyikapi Ujian Hidup

  1. Saya mempunyai kenalan. Beberapa tahun terakhir hidupnya berubah. Menjadi rajin jamaah shalat di masjid. Tak jarang maghrib sampai isya sekalian di masjid sambil membaca al-Qur’an. Puasa sunnah Senin Kamis demikian ia jaga. Masalah rezeki jangan ditanya. Lancar.

    Belum lama ini, ketika saya ke rumahnya, mendapati ia membersihkan pagar dan gerbang rumahnya. Ia cerita kalau rumahnya mau dijual. Ia bersama keluarga akan tinggal di rumah kontrakan sekaligus sebagai tempat usaha. Apa pasal? Belum lama ini ia “ditipu” rekan bisnisnya sekian miliar. Betapa ujian itu tampak berat. Tapi, ia dan istrinya tampaknya menjalani dengan penuh kesabaran.

    Disukai oleh 1 orang

    • Cukup menyentuh ceritanya, Pak Akhmad. Semoga kelak kita juga bisa dikarunia kesabaran seperti beliau saat musibah datang.

      Terima kasih sudah mampir. Salam kenal.

      Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s