Bertemu Khidir di Warteg

image
Ada kehampaan yang demikian besar mengisi relung hatinya. Seperti air ýang mengisi sebuah gelas, penuh sampai ke permukaannya. Sehingga tak menyisakan ruang kosong untuk perasaan lainnya, selain kesepian.

Perasaan inilah yang membuat Imron tidak lagi percaya bahwa kaum jomblo adalah kaum yang paling kesepian pada setiap malam minggu.

Malam ini, Imron merasa jauh lebih malang dari mereka,  walaupun dia  sudah menikah dan punya dua anak. Kesepian itu yang akhirnya membawa langkahnya ke sebuah warung tegal di gerbang luar komplek rumahnya. Sekedar ngopi dan mencari teman melewati malam minggu yang sepi.

***

Imron baru saja meletakkan pantatnya di bangku kayu panjang, ketika dia mendengar ucapan yang ganjil.

“Kesombongan itu seperti tutup cangkir.”

Rupanya, ucapan aneh itu terucap dari mulut seorang lelaki tua, di ujung utara dari bangku yang diduduki Imron. Ucapan yang meluncur begitu saja ketika Maman, penjaga warteg, menyodorkan pesanan si Kakek. Satu gelas besar susu hangat.

Imron yang duduk berseberangan, cuma bisa berguman dalam hati. Dasar orang tua aneh! Atau mungkin dia gila.

Tapi tidak mungkin juga dia gila. Terlihat dari mukanya. Walau kulitnya coklat-tua dan keriput dimakan usia, tetapi air-mukanya jernih dengan rambut putih keperakan menandakan kebijakan. Mungkin dia cuma orang asing yang kesepian dan butuh teman bicara.  Seperti juga aku sekarang, pikir Imron.

Dua menit kemudian Kopi panas yang dipesan sudah tersedia di hadapannya. Maman, Si penjaga warung tegal, tahu betul kebiasaan tiap pelanggan. Imron selalu minta kopi dalam cangkir tertutup.

Perlahan Imron menggeser duduknya. Penasaran dengan omongan laki-laki itu? Tidak! Dia cuma mencari teman ngobrol, karena sedang kesepian di rumah. Istri dan dua anaknya sedang pulang ke rumah mertua sejak dua hari lalu.

“Maksud Kakek, apa hubungan antara kesombongan dengan tutup cangkir?”

Lelaki tua itu tidak menjawab.

Cuma ada dua orang di warung itu. Dia dan si Kakek. Maman tak masuk hitungan, karena dia cuma bocah usia empat belas tahun yang sedang diminta menggantikan bapaknya menunggu warung.

“Tutup cangkirmu, kawan!” suara berat berdaya magis tiba-tiba saja terucap dari mulut si Kakek.
Seperti tersihir, Imron menutup cangkirnya.

Byuuuuur! …

Tiba-tiba, lelaki tua itu menumpahkan isi gelasnya ke cangkir Imron yang tertutup. Cairan putih kental berserakan membanjiri permukaan meja tempat duduknya. Imron kaku terpaku.
Maman juga tidak bergerak. Mereka cuma mematung seperti tersihir.

“Sekarang, buka tutup cangkirmu!”
perintah kakek tua itu lagi. Perintahnya serius, terlihat dari wajahnya yang serius.

Apa lagi maksudnya? guman Imron. Tapi, seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkan tangannya untuk membuka tutup cangkir. Membiarkan lelaki tua itu menuangkan minumannya ke dalam cangkirnya.

“Kek! Apa sih maksud dari semua ini!?”
tanya Imron, antara kesal dan penasaran.

“Seperti halnya cangkir yang tertutup. Ketika kesombongan menutup pintu hatimu, kau tidak akan bisa menerima kebaikan apapun. Itu karena kau sengaja menutup diri. Kau tak akan pernah bisa berubah dan akan tetap bodoh.”


“Sekarang lihat! Apakah kopimu masih hitam seperti tadi?”
perintah Kakek itu lagi.

Imron memandang isi cangkirnya, “Tidak hitam  lagi, Kek! Warnanya berubah coklat.”

“Jika keburukan dan kebodohan itu seumpama warna hitam yang mengisi hatimu. Maka, warna putih susu ini adalah kebaikan dan ilmu. kebaikan akan perlahan mengusir keburukan sesuai dengan kadar kebaikan yang kau masukkan. Ilmu akan perlahan mengusir kebodohan, sesuai dengan kadar yang kau masukkan.”


“Jadi … bagaimana caranya untuk bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, Kek?”
tanya Imron penasaran.

Tanpa menjawab, kakek tua itu kembali menuangkan sisa susu dari gelasnya ke cangkir Imron.

“Lihat sekarang! apa yang terjadi dengan kopi di dalam cangkirmu?”

“Kopiku menjadi putih sekarang Kek! Warna hitam terbuang dari cangkir dan berubah menjadi putih susu.”

“Seperti itulah kebaikan mengusir keburukan. Kau butuh lebih banyak melakukan kebaikan untuk mengusir sisi gelap dalam hidupmu. Ilmu juga seperti itu! diperlukan lebih banyak Ilmu supaya kau bisa membuang kebodohan dalam dirimu,”
jawab sang Kakek, sekali ini matanya tajam menatap Imron, seperti sedang menelanjanginya.

“Jadi, yang terpenting dari semua ini. kita harus bersedia membuka diri ya, Kek?
tanya Imron.

“Engkau sudah mengerti sekarang.”

Obrolan mereka terhenti saat telepon genggam Imron berbunyi.

“Permisi Kek, saya harus keluar dulu sebentar. Istri saya tilpun, sinyal di dalam sini terlalu lemah.”
Imron pun melangkah keluar.

***

Suara lembut dari ujung telepone, adalah suara salam dari Isti, Istrinya. Ucapan syukur perlahan terucap dari bibir Imron saat mendengar salam istrinya. “Dia tidak marah lagi,” pekiknya gembira.

“Waalaikumsalaam, Mah.”

“Mas, aku mau minta maaf ….”

Sebelum Isti melanjutkan ucapannya, Imron sudah memotong, “kamu gak perlu minta maaf sayang. Aku sudah menyadari kekeliruanku.”

“Maksud Mas?”

“Pertengkaran kita kemarin, karena salahku. Selama ini aku selalu merasa paling benar, dan menutup diri terhadap semua saranmu. padahal aku tau, anjuranmu supaya aku berhenti merokok adalah karena sikap sayangmu padaku. Pada buah hati kita juga.”

“Alhamdulillah. Besok aku akan pulang Mas, InsyaAllah.”

“Biar aku yang menjemputmu, sekalian minta maaf pada ayahmu.”

Isti menutup tilpunnya, setelah mengucapkan salam. Imron kembali melangkah masuk ke dalam warung.

***

Mendapati Maman sedang terkantuk-kantuk di kursinya, dia menepuk pundak remaja itu.

“Man! jadi berapa kopiku tadi?”

“Sudah dibayar Om, sama kakek yang janggut putih tadi.”

“Terus, kakek itu kemana?”

“Dia pergi terburu-buru tadi! Setelah mendapat  SMS. Katanya dia diminta meresmikan panti asuhannya yang kelima.” jelas Maman.

“Luar biasa! Kamu tau siapa namanya?”

“Katanya sih, ummmhh … Khidir Om. Iya, namanya Khidir!”

Imron termenung sejenak, teringat kisah Khidir dalam surat Al-Kahfi. Dia diutus Allah untuk menundukkan kesombongan Musa A.S, yang sempat merasa sebagai orang yang paling pandai di muka bumi.

Aaah … tapi tak mungkin, aku cuma manusia biasa dan Nabi Khidir juga sudah wafat ribuan tahun lalu, gumannya sambil melangkah meninggalkan warung.

***

** Picture credit : freysmiles.com

Posted from WordPress for Android

Iklan

9 pemikiran pada “Bertemu Khidir di Warteg

  1. Taaah alhamdulillah parantos nyerat deui.. 😀

    Cakep kang perumpamaannya.. Sepertinya perlu teguran keras untuk bisa menyadari kesalahan ya kang… Alhamdulillah diberikan “sentilan” di saat kita masih hidup, jd bisa memperbaiki kesalahan, eta oge lamun teu keukeuh peuteukeuh asa aing pangbenerna… 😀
    Baledog we ka jalmi anu kieu mah haha
    Hanya orang yang pintar dan bijak yg mampu mengambil makna yang tersirat.. Cobi upami henteu, eta Aki-aki paratos diteunggeul taaah hehee

    Jempol pisan kang postinganna..

    Suka

    • Sma-sama Mas. ini juga jdi sarana self reminder buat saya. Soal ceritanya murni fiktif dan imajinasi liar saya. Cuma saya pernah baca klo Tommy R, menganalogikan alam bawah sadar itu spti cangkir yg tertutup.

      Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s