Suatu hari di Warteg

Jengkol yang dongkol bersekongkol dengan ikan tongkol. Gerombolan teri, ngeri, menggeliat sekarat di atas kuali berkarat. Bermandi minyak panas, berderik seperti batang pakis terbakar.

“Minggir sonoh lo! Bau aceeem.” Gertak bang Tempe yang sedang cape menghardik Sayur asem, “Lo kan gak beda sama tempat sampah. Semua sayuran sisa jadi satu.”

“Jangan sok tahu lo nyong! biar asem gua banyak yang suka,” jawab Sayur asem sambil mesem-mesem.

“Sop ayam O’on!! ukan Sop tahu!!, kalo budeg kagak usah ikut ngomong, gak usah ikut-ikutan.” Semangkuk Sop ayam ikut bicara.

Om Tahu, si tambun-berbaju kuning yang mirip Spongebob sontak teriak, “Berisiiiiik! gua lagi bete,” membuat Pete, terkaget-kaget. Mencelat dari mulut Pak. Erte.

Sambel yang lagi sebel, terongok lesu di piring kecil abu-abu.

Hening sejenak …

Teh manis hitam manis, duduk manis tersenyum bahagia; “Gua yang paling bahagia hari ini, bisa menyentuh bibir Om Burhan, Geli banget gilaa! kena kumisnya yang lebat.”

****

Jam menunjukkan pukul satu. Aku melangkah lesu. Tugas kantor menunggu.

Iklan

4 pemikiran pada “Suatu hari di Warteg

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s