Like father, like Son

Sekilas pengalaman mendidik anak

Ini pengalaman saya yang mungkin tidak layak ditiru dalam mendidik anak-anak. Terlalu sering bercanda yang mungkin overdosis. Awalnya sih saya lakukan sekedar jadi penyeimbang, karena merasa mamanya terlalu keras dalam mendidik mereka. Sedih rasanya, saat-saat melihat mereka mengkeret ketakukan karena omelan mamanya, lebih-lebih, mendengar tangisan mereka saat meraung-raung minta ampun, waktu dikurung di kamar mandi, karena kesalahan yang serius; seperti berbohong atau mengambil uang belanja yang diletakkan mamanya sembarangan.

Mungkin candaan-candaan saya (terkadang) memang kelewat batas. ibunya anak-anak sudah sering mengingatkan saya untuk tidak bercanda kelewat batas dengan anak-anak. Bisa-bisa papah kehilangan wibawa di depan mereka. Begitu yang pernah dia peringatkan, pada saat-kami ngobrol-ngobrol sore sambil minum teh di halaman depan rumah pada suatu hari.

Ada beberapa kejadian lucu sekaligus menjengkelkan yang membuat saya merasa bahwa omongan istri saya memang benar. Mereka juga jadi keseringan bercanda yang kelewat batas dan susah banget untuk diajak bicara serius.

Beberapa keisengan mereka yang membuat saya berubah sikap antara lain :

Pengen jadi orang gila.

Waktu usia empat tahun dulu, kalau ditanya nenek atau kakeknya, apa cita-citanya kalau sudah besar nanti, dia suka asal-asalan menjawab; pengen jadi orang gila, karena tidak perlu mandi, tidak perlu sekolah dan perlu belajar, katanya.

Pura-pura di gigit ular.

Ini terjadi saat dia kelas 1 SD. Kami yang sedang asik ngobrol-ngobrol di teras rumah, tiba-tiba di kejutkan dengan tangisan dan teriakan si sulung.

“Mamaaah….paaaah, aku digigit ular”.Kami berdua langsung berlari  menuju  tanah kosong di seberang rumah yang memang masih ditumbuhi ilalang yang cukup tinggi.

Mendapatinya yang meringis menahan sakit. Kami panik, tanpa memeriksa lagi, langsung membawanya ke klinik terdekat. Menjelang dekat klinik, dia bangkit dan tertawa cengengesan, horreee… mama papa ketipu, orang aq cuma akting!!!.

Imam mesjidnya matic

Ini candaan dia yang juga nyebelin dan bikin kesel.

Bulan puasa empat tahun lalu. Kami sering di buat bingung, karena dia tidak mau shalat bareng mama papanya di mesjid dekat rumah. Dia lebih memilih untuk shalat tarawih di mesjid lain yang jaraknya cukup jauh jauh dari rumah.

Waktu kami tanya alasannya, dengan ringan dia menjawab, “Disana imam shalatnya ‘matic’ pah”.
“Kok, Matic….. maksud kamu???”.
“Imamnya gak punya gigi, alias ompong, jadi bacaanya cepat…hehehe”.

Tidak mau belajar

Kelas tiga SMA kemarin, dia males banget belajar. Ini membuat kami sangat khawatir, mengingat ada dua momen penting yang harus dia hadapi. UNAS sekaligus SNMPTN. Waktu mamanya nanya kenapa gak mau belajar, dia malah dengan santai menjawab;


<"Mama tau gak, kalo banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, kalo gak belajar…. kan gak ada yang lupa mah".

Mamanya cuma melotot sambil narik saya ke dapur, “Ini semua karena papa, terlalu banyak bercanda konyol sama mereka”. Saya cuma ngaku salah dan lebih serius lagi menghadapi anak-anak sekarang.


Adakah diantara anda yang punya pengalaman serupa???.

Posted from WordPress for Android

Iklan

9 pemikiran pada “Like father, like Son

  1. Duuh…. tapi nggak apa-apa, Mas… anak-anak memang suka bermain dan bercanda… cara menghadapinya memang harus lebih sabar…. tapi abaikan aja omonganku ini mas, wong aku belum berumah tangga, haha….

    Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s