Tambal ban “Franchise” ala Simamora

Akhirnya saya punya kesempatan untuk melanjutkan cerita “Anak dan istriku ku kasih makan angin” yang saya tulis minggu. Walaupun lanjutan nya sedikit terlambat. Terus terang, bukan karena masuk angin akibat malam itu duduk dekat bang Simarmora sang juragan angin. Bukan juga karena tidak bisa buang angin akibat konsumsi daging bakar tahun baru kemarin. Tapi, karena kesibukan-kesibukan lain sehigga baru sempat menuliskannya sekarang. Buat yang belum sempat baca tulian pertama-nya bisa baca di sini

Makan angin, memang judul yang agak provokatif tapi ini sama sekali bukan cerita fiktif. Bisa jadi, kisah ini sangat inspiratif dan informatif buat anda yang mencari solusi usaha alternatif dari seseorang yang inovatif dan kreatif dan sering dapat insentif. mudah-mudahan cerita saya bisa objektif dan tidak hyperaktif J.

Ini kisah hidup salah seorang tetangga dan teman akrab saya yang memang tidak jauh-jauh dari cerita sekitar makan angin, tapi, menurut saya layak ditulis karena mengandung inspirasi buat saya pribadi dan mungkin buat jutaan orang lainnya yang sampai saat ini belum bisa berpindah kuadran. Menghabiskan waktu seperti Hamster, berputar di roda statis, melakukan hal yang sama setiap hari, berangkat jam 6 pulang jam 8, kerja untuk makan, makan untuk kerja. Terus bekerja keras dan lupa untuk bekerja cerdas hingga terjebak jadi P17. Ini bukan nomor trayek metro mini, tapi : Persatuan Pekerja Pergi Pagi Pulang Petang, Penghasilan Pas-Pasan, Pinggang Pegal Pegal, Pala Pusing Pengen Punya Perusahaan Payaaaaah…Pingsan, Puihhhhh…. moga-moga tiap tahun gak bertambah satu P-nya, tahun ini Peot, Tahun depan Pikun….. Paraaaah prend J.

Walaupun menurut pangakuannya, Bang Simamora ini cuma mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMP, hebatnya, dia sudah bisa bisa melompat dua kuadran dari awalnya dari Employee ke Self employ sampai akhirnya sekarang jadi Business owner, walaupun sebagian orang masih suka mencibir sinis pada orang-orang yang bekerja di sektor informal; Ah… apa sih hebatnya, dia kan cuma pengusaha tambal ban.

Cibiran-cibiran seperti ini memang biasa dilakukan sang ‘Pencela batin’; Sosok kekanak-kanakan yang ada dalam diri setiap orang. Saat melihat orang lain sukses dan membandingkan dengan keadan diri sendiri, bukannya terpacu untuk sukses, lebih sering malah bersikap sinis dan berdalih dengan seribu alasan; Dia kan anak pengusaha!!!, Dia kan sukses karena punya modal!!!!, dia bisa sukses karena banyak koneksi.

Cuma, saat ini “Pencela batin” saya benar-benar gak punya alasan untuk mengasihani diri sendiri. Tidak mungkin juga saya berdalih; Dia kan sukses karena cuma kelas dua SMP, dia kan sukses karena tidak punya sanak famili di Jakarta, dia kan sukses karena tidak punya cukup modal. Seperti yang saya jelasin di atas, Setelah terombang-ambing diatas kapal PELNI dan mendarat di Jakarta dia mengawali petualangan hidupnya dengan bekerja di salah satu tambal ban di Jakarta selatan, sampai akhirnya bisa nabung dan mengumpulkan modal untuk memulai usahanya di sekitar komplek DPR Kalibata

Saat membaca tulisan awal saya, ada beberapa orang yang bisa menebak kalau lelaki Batak ini seorang tukang tambal ban, karena dari judulnya tentang ‘Ngasih makan anak istri pake angin’.Tebakan yang separuh betul. Tepatnya adalah, tukang tambal ban yang tidak cuma bekerja keras, tapi dia bisa bekerja dengan cerdas karena bisa mengelola sesuatu yang nampak sederhana dan lebih sering dipandang sebelah mata menjadi sesuatu yang luar biasa (menurut saya). Dia sudah bermetamorfosis dari seorang pekerja tambal ban menjadi pemilik lima kios tambal ban “Franchise” yang bisa memberikanya penghasilan 12 sampai 15 juta per-bulan.

Sekarang saya mulai mengerti, kenapa dia bilang ngasih makan dan biaya hidup keluarganya cuma pake angin. Ternyata (menurut dia), dari jasa nambah angin saja satu bengkelnya bisa rata-rata menghasilkan 50 ribu rupiah. Jadi, dari lima kios tambal yang dia miliki paling tidak dia bisa membawa pulang 250 ribu rupiah perhari, Uang itulah yang digunakan keluarganya untuk biaya hidup sehari-hari. Itu diluar uang bagi hasil bulanan sekitar 15 juta dari 5 bengkel tambalnya yang sepenuhnya bisa dia tabung atau investasikan buat buka tambal ban lain.

Saya sendiri bingung waktu dia bila tambal ban franchise “ala Simamora”. Yang saya tau franchise itu cuma gerai minimarket atau beberapa gerai makanan yang terkenal itu. Apa pulak ini bang!!!.

“Terus gimana abang memulainya, dan bagaimana hitung-hitunganan sampai 15 juta itu bang???'”. Tanyaku makin penasaran.

“Awalnya sih, Aku cuma punya satu tempel (tambal) ban, bang. Waktu itu aku masih belum keluarga jadi aku makan dan merokok dari uang angin, sedangkan jasa tambal ban, uang hasil jualan ban baru atau orang ganti oli bisa aku tabung dan bikin kios baru di tempat lain”.

” Terus kalo abang buka ditempat lain, kios yang lama gimana Bang???” lanjutku. Sumpah!!!, makin penasaran.

“Yaaa… yang sudah jalan, kuserahkan orang lain bagi hasil”. Sekali ini sambil menegak minumannya. Kalo yang ini sih mungkin gak perlu ditiru, dia bersahabat akrab banged sama si Tomi Bima alias topi miring bikin mabuk dan sampai sekarang belum bisa lepas dari kebiasaan lamanya.

“Terus cara abang gak takut dibohongin dia. Gimana dengan bagi hasilnya”.

“Itulah yang aku gak suka dari kebanyakan orang ‘sekolahan’ itu bang. Terlalu banyak pertimbangan, curiga, takut dibohongi, takut gagal, serba ragu dan malas memulai. Malah banyak yang gagal sebelum mencoba karena kebanyakan perhitungan. Mana bisa maju!!!”, lanjutnya. Kali ini saya harus bergeser rada menjauh karena aroma minuman yang tajam dari mulutnya.

Aku sendiri gak terlalu aneh dengan sikapnya yang cenderung ceplas-ceplos, karena sudah sangat terbiasa bergaul dengan banyak teman dari Sumatra utara yang memang cenderung terus terang. Pernah dia. Waktu dipersulit dalam proses pembelian rumah dulu, karena Cuma bercelana pendek dan berkaos bungtung, dia nyeletuk ngungkapin rasa kesalnya; “Ah… klean yang kerja berdasi juga semua serba kredit. Cuma modal gengsi. Rumah kredit, mobil kredit, sampe belanja kebutuhan harian di Super market yang ber-AC aja pake kartu kredit!!!.”. Pedeeeees banged bang Mora!!!.

“Soal setoran bagi hasil 2.5 juta per-bulan itu aku punya perhitungan sendiri bang. Setelah jalanan usaha ini lebih dari satu tahun, aku jadi tahu kalau rata-rata penghasilan perbulan itu sekitar 5 sampai 6 juta, Jadi kulepas bengkel itu sama teman dan dia harus setor 2.5 juta per bulan”.

Tahun 1996. Jauh sebelum bisnis waralaba model-model mini market yang menjamur bak panu di musim panas sekarang. Dia sudah berpikir untuk menerapan pola pengembangan usaha seperti ini, karena seperti apapun usahanya dikembangkan dilokasi yang sama mungkin tidak akan berkembang terlalu signifikan. Makanya dia lebih tertarik untuk memperbanyak kios di tempat lain yang ramai.

“Terus…. kira-kira abang punya resep nggak buat bikin usaha tambal ban supaya maju”.

“Tebar senyum dengan pelanggan dan jangan coba-coba tebar paku!!!!., Dengan tebar paku mungkin abang bisa dapat 50 sampai seratus ribu uang tambahan, tapi mereka gak akan pernah kembali bang. Ujung-ujungnya anak dan istriku bisa masuk angin karena uang angin yang tidak dengan ikhlas di berikan pelangganku”.

Hari ini saya dapat pelajaran baru.. Ternyata usaha sektor informal yang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang bisa jadi sangat berarti jika dilakukan dengan sunggguh-sungguh dan cerdas.

Baca Juga tulisan berikut :

Mengenali Kebohongan Pasangan

Iklan

3 pemikiran pada “Tambal ban “Franchise” ala Simamora

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s