Anak istriku kukasih makan angin tiap hari.

“Abang percaya gak, kalo si Saurdot, Jonathan dan mamaknya setiap hari cuma ku kasih makan angin”, kata Simamora sambil mengibas-ngibaskan kaos-nya mengusir panas saat kami terlibat obrolan ringan di pos kamling persis di depan rumahnya. Laki-laki batak setengah baya itu memang sehari-harinya selalu bertelanjang dada dan jadi penghuni tetap pos satpam di komplek kami. Kadang sekedar merokok dan ngopi atau main gitar menyanyikan lagu lagu daerah dari tempat dia berasal.

Terus terang, aku masih sering terheran-heran dan rada iri dengan gaya hidupnya yang santai. malam-malamnya labih banyak dihabiskan dengan main gitar sementara siangnyaΒ  dengan kumpul dan ngobrol-ngobrol, terkadang diselingi main kartu dengan anggota keluarganya yang lain. pernah iseng-iseng ku hitung, paling tidak di rumahnya dihuni oleh 9 orang anggota keluarga. Selain dua anak lelakinya yang menginjak remaja, dia juga masih menampung dua adik dan dua keponakannya.

“Lae, ngomong-ngomong, apa gak masuk angin tuh kalo anak dan bini tiap hari dikasih makan angin, maksud abang???.” tanyaku makin penasaran.

“Betul bang, bukan cuma makannya, Uang sekolah anak-anak aja aku bayar pake angin”, lanjutnya sambil menepuk perut buncitnya yang dihinggapi beberapa ekor nyamuk. Kali ini aku percaya, kalau dia tidak sedang main-main karena mimiknya menunjukkan muka serius.

Aku makin penasaran.

Sejak bertetangga sama dia memang aku belum pernah tahu profesi dia yang sesungguhnya. Melihat pola hidupnya yang lumayan, Rumah type 60, tiga sepedar motor dan kendaraan roda empat yang dimililkinya seperti tidak sesuai dengan pola hidupnya yang cenderung santai. Terkadang aku berpikir mungkin dia punya deposito milyaran rupiah sehingga bisa tetap hidup nyaman dengan gaya hidup seperti itu, atau jangan-jangan profesi dia komandan preman yang tinggal duduk manis menerima setoran dari anak buahnya, maklum penampilannya yang tinggi besar dengan muka kasar dan rahang kaku segi empat, ditambah lagi potongan rambut cepak model Mike tyson, menambah garang penampilannya.

Tapi, ucapannya tentang makan angin tadi benar-benar menggelitik pikiranku, sudah lama betul aku penasaran tentang profesi dia yang sesungguhnya.

“Jadi maksud lae, ngasih makan anak-anak dan uang sekolah pake angin itu gimana bang”, tanyaku dengan muka melongo makin gak ngerti?. “Udahlah bos, nih merokok dulu”, kali ini dia menyodorkan bungkusan rokok Jie Sam Soe dari kantongnya dan menyalakan korek, membuat aku bisa melihat dengan jelas codet-codet dimukanya. Mungkin bang Mora ini memang preman, pikirku. Ahh, lagi-lagi aku berprasangka buruk sama dia.

Aku bukan satu-satunya yang sering penasaran tentang profesi lae Simamora ini, warga lain di komplek kami-pun banyak yang lebih penasaran lagi, karena tidak seperti kami yang pada umumnya memanfaatkan fasilitias KPR untuk mendapatkan rumah, abang kita yang satu ini justru membeli rumah dengan tunai.

Sayang saya belum bisa nerusin tulisan ini, karena ada dipanggil bang Simamora untuk suatu urusan, kalau pengen tau profesi bang mora yang sebenarnya, ikuti lanjutanya besok ya. πŸ™‚

Iklan

17 pemikiran pada “Anak istriku kukasih makan angin tiap hari.

  1. Ping balik: Tambal ban “Franchise” ala Simamora | BePlus Blog

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s