Mampukah uangmu membeli kebahagiaan ?

miskin kebahagiaan

“Ayah…., terima kasih karena telah mengijinkan aku menyadari betapa miskinnya kehidupan kita”, demikian ucapan seorang anak kepada ayahnya.

Sang ayah, seorang China yang kaya raya, telah menitipkan anaknya selama tiga hari kepada keluarga miskin di pedesaan supaya dia bisa merasakan rasanya hidup dalam kemiskinan dan lebih bersyukur atas kebahagian karena kehidupannya yang kaya raya. Setelah sang anak kembali, mereka terlibat dalam percakapan berikut :

“Bagaimana kehidupanmu disana nak apakah kamu menemukan kebahagiaan?, tanya sang ayah.

“Saya pikir semua baik-baik aja yah”, jawab sang anak. Sangat jauh dari harapan ayahnya yang menduga akan mendengar banyak keluhan tentang betapa banyak kesulitan yang di alaminya selama tinggal di rumah petani tersebut.

“Apa saja perbedaan yang kau temui antara rumah kita dengan rumah mereka?” tanya ayahnya penasaran.

“Waaaah, banyak banget perbedaannnya!!!” dengan bola mata berbinar penuh semangat sang anak menjelaskan;

“Kita cuma punya satu ekor anjing di rumah, tetapi mereka memiliki empat ekor. Kita memiliki kolam renang dengan penjernih air, tetapi mereka memiliki kolam besar dengan air bersih yang senantiasa segar. Luar biasanya lagi……, kolamnya banyak ikannya lho yaaaah!!!

Kita memiliki bola lampu di taman depan rumah kita, tetapi mereka memiliki ribuan bintang dan bulan yang terus-menerus menerangi halaman rumahnya. Jika taman rumah jika dibatasi tembok pemisah, mereka lebih bahagia karena memikiki taman rumah yang begitu luas tanpa batas, sampai ujungnya seperti menyatu dengan kaki langit.

Kita mendengarkan Radio dan CD di rumah kita, sementara mereka biasa mendengarkan merdunya kicauan burung, suara gemericik air sungai dan suara alam lainnya. Jika rumah kita tertutup dinding dan pagar ditempat mereka pintunya selalu terbuka dan siap menyambut teman-teman dan kerabatnya untu berbagi kapan saja mereka mau.”

Kehidupan kita, kebahagiaan, dan keindahan alam di sekitar adalah hal-hal yang tidak bisa di beli dengan uang. Sayangnya kita lebih sering menghargai barang-barang yang bisa di beli dengan uang dan justru kurang mensyukuri yang lainnya

Saat kita mulai menghargai apa yang sudah kita miliki termasuk keluarga dan orang-orang terdekat, kita tidak akan lagi lupa diri dan terus bergelut mengejar kehidupan dan kemewahan dunia yang tak akan pernah terpuaskan karena kebahagiaan yang kita butuhkan sebetulnya sudah ada di sekitar kita.

Iklan

9 pemikiran pada “Mampukah uangmu membeli kebahagiaan ?

  1. Ping balik: Istriku Mirip Sekarung Beras Raskin | BePlus Blog

  2. Ping balik: Mendidik Anak : Belajar dari Pintu yang Retak | BePlus Blog

  3. Ping balik: Kesumat – Mahluk gaib penghalang kebahagian | BePlus Blog

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s