Akhli ibadah ini difitnah berzina karena mengabaikan ibu

Sebuah pelajaran untuk bersegera memenuhi panggilan dan kebutuhan ibu

Kuil diatas bukit

Gambar ini sekedar ilustrasi – sumber gambar dari bacacontent.com

Dua hari lagi kita akan merayakan hari ibu. Saya jadi kembali teringat salah satu permintaan ibu yang sangat sederhana dan belum sempat saya penuhi. Semoga momen hari ibu besok, bisa jadi sarana introspeksi bagi kita semua untuk lebih banyak meluangkan waktu buat ibu, walaupun tentu saja, tanpa peringatan hari ibu atau mother day yang juga banyak di peringati di belahan dunia lain-pun, kemuliaan seorang ibu tidak akan pernah berkurang.

Sehebat apa-pun seorang ayah, tak akan pernah bisa mengalahkan kehebatan ibu dalam tiga hal; Mengandung, Melahirkan dan Menyusui. Ini membuat saya tergerak untuk menceritakan kisah yang sebetulnya beberapa kali sempat saya dengar, tapi belum berani saya ceritakan ulang karena belum tahu ke-shahihan-nya. mengingat banyaknya kisah palsu yang beredar di masyarakat, terutama seputar kisah-kisah dari masa Bani Israil yang dibumbui khurafat yang berlebihan.

Alhamdulillah, saya menemukan rujukan hadist kisah ini dan bermaksud menceritakannya kembali untuk anda, dengan harapan bisa me-motivasi kita untuk lebih berbakti kepada orang tua.

§§§§§§§§§§§§§§§§

 

Juraij nama lelaki itu.

Masyarakat di sekelilingya memanggilnya dengan julukan Juraij al-abid. Bisa ditebak kenapa?. Karena dia adalah seorang akhli ibadah pada jamannya. Juraij yang awalnya adalah seorang pedagang sukses dilanda rasa galau luar biasa. Lelah dengan kehidupan dan hingar-bingar duniawi, membuatnya sadar  akan kefanaan dunia dan kesenangan yang menipu sehingga memutuskan untuk mengabdikan hidupnya di jalan Allah dan memanfaatkan sisa usianya untuk beribadah.

Untuk mewujudkan tekad kuatnya dia membangun kuil di suatu bukit yang jauh dari masyarakat yang dirasanya bisa mengganggu ke-khusyuan-nya dalam beribadah, termasuk terpisah dari ibunya yang shaleh, Ber-uzlah (mengasingkan diri) dari makhluk. Suatu hal yang banyak dilakukan oleh orang-orang shaleh pada masa bani israil.

Sekian lama terpisah dari anaknya, sang ibu merasakan kerinduan yang luar biasa. Kerinduan panjang yang sudah lama dipendamnya. Kerinduan inilah yang akhirnya membuat sang ibu menempuh perjalanan jauh untuk menemui anaknya. Sesampainya di kuil, sang ibu yang didera rasa rindu tersebut memanggil anaknya yang sedang khusyu sembahyang dan bermunajat kepada Allah. Namun Juraij lebih memilih untuk meneruskan sembahyangnya dan tidak menghiraukan panggilan ibu..

Berulang kali sang Ibu memanggil, mendonggakkan kepala dan memicingkan mata dari silau matahari siang di bukit yang tandus mencari-cari si anak kesayangan tanpa hasil hingga, dengan sedihnya sang ibu memutuskan untuk pulang dan kembali lagi esok hari.

Hari kedua.
Sang ibu kembali menempuh perjalanan jauh. Mencari dan memanggil dari luar kuil. Tanpa hasil……

Hari ketiga.
Tidak lebih baik dari hari pertama dan kedua. Kembali gagal setelah berulang kali memanggil. Sedih dan pulang dengan hampa dan sakit hati….

Semestinya, Juraij meninggalkan  shalat (sunnah) atau segera meringankan shalatnya dan lebih mementingkan panggilan ibunya. Karena, bersegera menjawab panggilan dan memenuhi kebutuhan ibunya lebih mulia dari shalat sunnah. Bisa jadi, karena Juraij lebih asyik dengan ibadahnya dan lalai dalam menuntut ilmu sehingga tidak menyadari jika agama menganjurkan untuk bersegera memenuhi panggilan ibu. Dalam banyak riwayat* dari sahabat Rasulullah kita tahu, bahkan Rasulullah beberapa kali meringankan Shalat wajibnya ketika sedang meng-imami jama’ah karena mendengar tangisan bayi. Karena khawatir ada bayi yang haus butuh ibunya.

Dalam hadist disebutkan, ketika shalat, Juraij mendengar panggilan ibunya dan diliputi keraguan, “Ya Rabbi… Ibuku atau Shalatku, Ya… Rab, Ibuku atau shalatku”. Namun Juraij lebih memutuskan untuk terus meneruskan shalat dan mengabaikan ibunya.

Didera rasa rindu dan kecewa karena anaknya tidak mau menemuinya, sang ibu marah dan berdoa kepada Allah agar tidak mematikan anaknya hingga melihat wajah seorang pelacur, suatu yang sangat rendah dan hina pada masa itu bagi seorang akhli ibadah.

Doa ibu yang shaleh dan sedang tersakiti ini di ijabah Allah, Allah telah menyiapkan sebab-sebab untuk memberi peringatan dan pelajaran kepada Juraij melalui seorang pelacur. Keshalehan dan kebaikan Juraij seorang akhli ibadah yang teguh dan jadi buah bibir masyarakat sekitar membuat pelacur ini penasaran dan ingin membuktikan kehebatan dan kecantikannya yang telah menggoda sekian banyak lelaki. Dia akan menggoda Juraij dan membuatnya bertekuk lutut seperti laki-laki lainnya.

Namun, kecantikan dan kemolekan tubuh yang selama ini dibanggakan dan diyakininya bisa menundukkan semua lelaki tersebut ternyata gagal untuk menundukkan Juraij. Laki-laki shaleh itu tidak bergeming setelah berkali-kali digodanya. Penolakan yang akhirnya membuat sang wanita malu dan sakit hati. Malu karena kehebatannya sebagai wanita yang mampu menundukkan lelaki kini tercoreng dan sakit hati yang membuatnya bertekad untuk menempuh segala cara untuk menjerumuskan sang akhli ibadah.

Dengan idzin Allah pula, pelacur tersebut menemukan seorang penggembala kambing di sekitar kuil tempat tinggal juraij. Kemudian menggoda orang tersebut untuk berbuat mesum hingga hamil dan akhirnya melahirkan bayi beberapa waktu kemudian. Pelacur terkutuk tersebut, segera mengabarkan kepada seluruh warga bahwa bayi yang dilahirkannya adalah hasil hubungan gelapnya dengan Juraij.

Bisa diduga apa yang terjadi kemudian. Juraij dituduh sebagai akhli ibadah yang bejat. Serigala berbulu domba berbulu domba. Musang berbulu ayam. Akhli ibadah yang menunjukkan keshalehannya cuma sebagai kedok dan pemanis palsu. Fitnah ini merebak demikian cepat dan mendorong warga untuk mendatangi Kuil ibadah Juraij dan membakarnya.

Lagi-lagi, saat penduduk datang dan memanggil-manggil Juraij, meminta dia menemui dan menjelaskan kedustaannya, dia sedang asyik dan khusyuk beribadah dan tidak segera menemui mereka sehingga masyarakat yang sudah kesal dan terbakar amarah mulai menghancurkan kuil. Saat kapak-kapak mulai berdenting, sekop dan martil mulai menggempur kuil, Juraij menyelesaikan shalatnya dan mememui meraka.

Dengan membawa wanita dan bayi yang dilahirkannya, warga meminta pengakuan Juraij dengan segala sumpah dan cacimakinya. Juraij yang merasa tidak melakukannya, segera merasakan bahwa dia mendapat cobaan Allah kerena telah mengabaikan ibunya. Menyadari kesalahannya dan bertekad untuk meminta maaf kepada ibunya.

Dia meminta waktu sejenak, berwudhu dan bersembahyang, meminta ampun dan memohon pertolongan kepada Allah melalui shalatnya. Selesai salah dia kembali menemui warga seraya menyentuh perut bayi yang mereka bawa dan bertanya, “Siapa ayahmu?”. Allah menolong hambanya yang taat dan telah menyadari kekeliruan-nya dengan membuat bayi itu bisa berbicara, “Ayahku adalah fulan bin fulan, si penggembala kambing yang biasa ada di tempatmu”.

Warga segera sadar atas kesalahnya dan menjadi tambah yakin atas kesalehan Juraij yang telah terkena fitnah dari si Pelacur yang sakit hati. Meminta maaf dan berjanji untuk membangun kembali kuilnya dengan perak dan emas. Namun Juraij menolaknya dan Cuma meminta kuilnya dikembalikan seperti semula.

Allah mengabulkan doa Ibu yang tersakiti dan menunjukkan pertolongan kepada hambanya yang saleh walaupun harus melalui cobaan kecil yang kelak akan membuatnya sadar dari kekelirun-nya sehingga terhindar dari malapetaka yang lebih besar.

Semoga dari kisah ini kita bisa belajar untuk lebih memuliakan Ibu sekaligus lebih semangat untuk menuntut ilmu untuk menyempurnakan ibadah kita sehingga tahu amalan mana yang lebih sempurna di mata Allah

§§§§§§§§§§§§§§§§

Referensi :

  1. * Anas bin Malik berkata, “Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang shalatnya lebih ringan dan lebih sempurna daripada Nabi. Beliau memperpendek shalat apabila beliau mendengar tangis seorang bayi, karena takut ibu anak itu merasa menderita.”
  2. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah. Hadis ini dalam Shahih Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, 6/476, no. 3436.
  3. Kisah-kisah shahih dalam Al-Quran dan Hadists Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Jordania.

Iklan

18 pemikiran pada “Akhli ibadah ini difitnah berzina karena mengabaikan ibu

  1. Aaah jadi semakin kangen sama emak di Bandung..

    Semoga اللّهُ Yang Maha Pengasih senantiasa melimpahkan lindungan dan nikmat sehat untuk semua yang bergelar ibu…aamiin..

    Momiih kangeeen niih…!!

    Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s