Mengeluh dengan ‘cantik’

ayat keluh kesah

Al-Ma’aarij 19-21

Pagi kemarin,

kembali saya  datang terlambat ke kantor. Seperti biasa, reaksi pertama yang terjadi adalah mengeluh, mulai dari istri yang dandanya kelamaan (biasa berangkat bareng istri) sampai soal jadwal KRL commuter line yang ngaret dan ditahan di tiap stasiun.

Seperti biasa juga, saya bukan satu-satunya orang yang memulai hari dengan keluhan. setidaknya, pagi ini ada delapan orang teman kantor yang menu sarapan paginya adalah sayur asem dan kopi pahit. Maksud saya keluhan yang asem dan pahit, mulai dari si kecil yang rewel gak mau ditinggal,lupa naro dompet atau kunci motor, dan yang lebih sering justru keluhan tentang kelambatan Commuter line tadi. Selalu jadi senjata ampuh sebagai alasan keterlambatan datang ke kantor.

Makan siang hari ini kembali diiringi nyanyian getir seputar keluh kesah tadi. Kali ini tentang menu makan siang yang minimalis. Menu sop buntut berubah jadi sayur asem. Rendang jadi tempe goreng. Ikan kakap bakar berubah jadi teri goreng. Semua mengeluh karena jatah uang makan yang hilang karena potongan keterlambatan dari HRD. Di pojok warteg, Bapak manager HRD *****shttttt… manager HRD juga maka di warteg*** juga mengeluh tentang kekhawatirannya ditegur direktur karena gagal memacu disiplin karyawan untuk datang on time.

Keluh-kesah memang sudah menjadi sifat dasar manusia. :” Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir( QS.70:19-21), Tidak mengherankan jika media sosial selalu dipenuhi keluh kesah; mulai dari yang sedih ditinggal mati kucing kesayangannya, harga sembako yang merangkak naik. Parahnya lagi sampai banyak yang mengeluhkan rasa malunya karena punya presiden yang tidak seganteng presidennya yang dulu. **halaaaaahhhh, opo perlu!!!!!.**

Kalau saya ditanya, berapa banyak sih orang yang mengeluh. Saya akan dengan lantang mengatakan 6 miliar atau mungkin 10 miliar orang, jika dihitung dari jamannya nabi Adam sampai Adam malik berlanjut ke Brian adam dan bang Adam-nya suami mbak Inul pasti pernah mengeluh.

Pertanyaannya, apakah orang-orang pilihan seperti para nabi juga suka ngeluh???.

Mereka juga masih manusia dan sudah pasti pernah mengeluh, cuma yang pasti keluhan mereka adalah ‘keluhan cantik’. Seperti apa sih keluhan cantik itu?.. keluhan yang disampaikan dengan cara yang benar dan disampaikan kepada zat yang maha benar. Yang menghilangkan segala kesedihan dan duka cita. Yang memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitan. Karena ayat dari Quran surat 70 (Al Ma’aarij) yang saya kutip diatas tadi dilanjutkan dengan dua ayat berikutnya;

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang mengerjakan salat,
yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya.
(QS. 70:19-23)

Seperti Nabi Ya’qub a.s. dikala ditimpa duka-cita kehilangan Yusuf yang dicintainya; “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihan hatiku kepada Allah.” , atau keluhan Ayub AS saat ditimpa penyakit “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit. Dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Itulah keluhan terpuji, keluhan cantik yang disampaikan melalui doa-doa dan pengaduan kita kepada Allah. Karena merahasiakan keluhan kepada makhluk adalah salah satu sikap terpuji dan termasuk dalam tiga pusaka kebajikan :

“Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan).”
(HR. Ath-Thabrani)

Bagaimana dengan Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia pilihan yang tidak mengeluhkan masalahnya kepada manusia seperti yang disampaikan oleh pembantu beliau – Anas RA : “Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah beliau menegur, “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.” (HR. Ahmad). Saat-saat menghadapi kesulitan beliau mengadukan masalahnya kepada Allah SWT seperti dalam munajat dan tadharru yang amat indah ini :

* dikutip dari buku Pedoman Dzikir dan Doa – Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy

“Wahai Tuhanku,
Engkau mendengar ucapanku,
Engkau melihat tempatku,
Engkau mengetahui rahasiaku yang lahir dan yang bathin
Tak ada satupun yang tersembunyi dariMU
Aku adalah orang yang sangat membutuhi,
Sangat berhajat
Yang memohon keamanan
Yang senantiasa dalam ketakutan
Yang mengaku bersalah.

Aku memohon kepadaMU sebagaimana orang miskin memohon
Aku bertadharru kepadaMU sebagaimana orang yang berdosa
Aku seru Engkau sebagai orang yang ketakukan
dan sebagai seruan orang yang tunduk kepada engkau lehernya
Telah meleleh karena Engkau airmatanya
Telah tunduk tubuhnya dan telah lengket hidungnya (dalam sujud)

Wahai Tuhanku,
Janganlah menjadikan aku orang yang malang
celaka terhadap do’a Engkau
Dan jadilah diri Engkau terhadapku seorang penyayang
Yang rahim
Wahai sebaik baik tempat memohon
Wahai sebaik baik tempat memberi.

Iklan

11 pemikiran pada “Mengeluh dengan ‘cantik’

  1. Ping balik: Buang Separuh Jiwamu! Dapatkan Separuh Agamamu | BePlus Blog

  2. Ping balik: Istriku Mirip Sekarung Beras Raskin | BePlus Blog

  3. Ping balik: Bolot Marketing Gaya Mbah Sri | BePlus Blog

  4. Ping balik: BePlus Blog | Mampukah uangmu membeli kebahagiaan ?

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s