Daun Ubi berbuah anak

“Peliharalah Allah,
maka engkau akan mendapatkanNya di hadapanmu.
Berkenalanlah kepada Allah
yakni tahulah kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan untuk Allah
di waktu engkau dalam keadaan lapang
sehat, kaya dan lain-lain.,
maka Allah akan mengetahuimu,
memperhatikan nasibmu,
di waktu engkau dalam keadaan kesukaran,
sakit, miskin dan lain-lain.

Ketahuilah bahwa apa-apa yang terlepas daripadamu itu,
keuntungan atau bahaya, tentu tidak akan mengenaimu
dan apa-apa yang mengenaimu itu pasti tidak akan dapat terlepas daripadamu.

Ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran
dan bahwasanya kelapangan itu beserta kesukaran
dan bahwasanya beserta kesukaran itu pasti ada kelonggaran.”

(HR. Tirmidzi)

 

Kalau Allah sering menunjukkan kekuasaan dan pertolongannya melalui hal-hal kecil yang sering nampak sepele, remeh dan tidak berharga, mungkin Allah sedang mengajari kita untuk bisa lebih menghargai hal-hal kecil di sekitar kita. Sehebat apa-pun kemampuan manusia, secanggih apa-pun tekhnologi yang digunakan, Sekuat dan sekeras apa-pun usaha kita, tak akan pernah bisa menghasilkan apapun tanpa idzinNYA.

daun Ubi Rambat

daun Ubi Rambat

Hal itu seperti itu jugalah yang pernah aku alami dalam kehidupan berumah tangga dengan istri. Enam tahun menikah tanpa anak bisa jadi hal yang sulit buat beberapa orang. Buat kami, kondisi ini terasa jadi jauh lebih berat karena kami hidup di rantau. Terpisah ribuan kilometer dari keluarga besar. Di daerah yang agama dan kultur budayanya sama sekali berbeda.

Buat aku pribadi, mungkin tidak terlalu berat karena sudah sangat terbiasa hidup terpisah dari ibu sejak usia enam tahun, nge-kost sejak SMU, bahkan kabur dan bertahan hidup di jalanan sejak mulai kuliah.

Buat Istri…..?

Mungkin duka.Mungkin rindu. Mungkin resah. Mungkin gelisah. Mungkin hampa.

Karena dia anak mama yang manja. Walaupun asli jawa tapi lahir di tengah-tengah kultur Betawi yang tingkat kekerabatannya masih tinggi. Jangankan merantau, hari pertama masuk SMA saja masih ditemani ibu. Begitu juga pada saat hari pertama dia kerja.

Aku tahu kalau dia memendam semua perasaan itu walaupun  di pendam dan jauh disembunyikannya dalam lubuk hatinya yang paling dalam, kecuali ungkapan rasa bersalah dan kecewa karena perasaan tidak sempurna sebagai wanita yang belum bisa memberikan keturunan buat orang yang dicintainya.

Segala usaha untuk memiliki momongan terus kami usahakan, baik secara medis maupun non medis sejak tahun perkawinan kedua termasuk melakukan tindakan hydrotubasi dan pertubasi yang berakhir pada kesimpulan terjadinya penyumbatan saluran indung telur yang cukup berat pada saluran rahim sehingga hampir tidak ada kemungkinan memiliki anak. Ini memang kondisi 20 tahun lalu saat dunia kedokteran belum semaju sekarang.

Jujur saja, sebelum vonis dokter ini, kami termasuk pasangan suami istri yang ngo-boy dan rada anak-ubi-rada badung, lebih banyak hura-hura, jalan bareng dari satu cafe ke cafe yang lain, dan pulang saat menjelang pagi terkadang dalam keadaan mabuk. Dan saat-saat kembali ke rumah, perasaan sepi, hampa dan kosong itu kembali mendera.

Tak lagi bisa kami nikmati keindahan pantai Sanur di dekat rumah. Suara burung malam terdengar seperti tangisan bayi, Gemuruh ombak pantai seolah celoteh puluhan balita, desiran angin hangat pantai Sanur seolah elusan tangan mungil bayi yang selalu kami impikan.

Hikmahnya, Vonis dokter ini jadi titik balik buat kami untuk lebih dekat kepada Allah dan rajin menjalankan perintahNYAa. Alhamdulillah, setelah nyanyian jadi lantunan shalawat, Kemarahan pada takdir jadi istighfar dan Keluh kesah jadi doa. Allah menunjukkan kuasa dan pertolongannya melalui segenggam daun ubi. Takdir Allah pulalah yang membawa kami kembali ke Jakarta karena suatu hal dan mempertemukan kami dengan opung Manurung.

—–0000000——

“ Bodoh kaaaali dokter itu!!!!!”, ……“Cuma Tuhan Yesus yang boleh bilang klean gak bisa punya anak. Kalo DIA sudah berkehendak semua bisa terjadi”. Itu omongan opung Manurung dengan logat Bataknya yang kental, saat dia memeriksa perut istriku, lima jari di bawah pusar tepatnya.

“Rahim kau ini panas, mungkin kau kebanyakan makan sambal waktu gadis dulu”, lanjutnya lagi. Istriku cuma meng-iyakan karena memang dia suka sekali makanan pedas semasa gadisnya dulu.

“Jadi kami mesti gimana pung?”, tanyaku. Karena aku sama sekali tidak mendengar ada komat-kamit pmbacaan mantra atau deretan botol herbal di tempatnya. Bahkan, tak ada papan nama ‘pengobatan tradisional’ di rumahnya yang sederhana di kawasan Balai pustaka, Rawa Mangun, Jakarta Timur.

aura

Berbeda dengan diagnosa dokter, menurut opung Manurung, kondisi rahim istriku yang panas menyebabkan susah terjadi pembuahan saat indung telur bertemu dengan sperma. Supaya kondisi rahimnya dingin dan sehingga memungkinkan terjadinya pembuahan kami diminta mencari segenggam daun Ubi.

“Daun ubi-nya cukup kau rebus sampai halus seperti bubur, tapi ingat!, jangan kau kasih garam atau bumbu-bumbu lainnya. Setelah itu kau makan, bisa kau coba dua atau tiga kali dalam seminggu”

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan pertolongannya lewat segenggam daun ubi melalui pertemuan kami dengan opung manurung. Dua minggu kemudian, setelah dua kali mengkonsumsi bubur daun ubi, istriku dinyatakan hamil.

Masih banyak hal yang diliputi misteri di seputar kehidupan kita, termasuk kehidupan opung Manurung. Saat aku kembali hendak mengunjunginya sekedar menyampaikan khabar gembira dan buah tangan ala kadarnya sebagai ucapan terima kasih. Kami tidak berhasil menemuinya, menurut informasi dari para tetangganya, dua putranya adalah dokter, seorang dintaranya lulusan Amerika. Sayangnya para tetangganya cuma tahu kalau opung Manurung tinggal ke daerah Bekasi tanpa tahu alamat pastinya.

Sekarang anak ubi itu jadi kesayangan abi dan umi, sudah berusia 19 tahun dan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa tengah.

Iklan

5 pemikiran pada “Daun Ubi berbuah anak

  1. Alhamdulillah…
    Waah ganteng-ganteng anaknya kang..

    *besanan yuk..??! haha

    Jadi ingat sobat saya disini kang, sudah lebih dr 5 thn ada yg 10 thn nikah, ngga dikaruniai keturunan, eeh setelah pindah ke Jakarta/Indonesia malahan hamil ..!!

    Saya lagi muda paling doyan pedes kaang, maklum urang Sunda mah ngga bisa “hidup” tanpa sambel dan lalab, eeeh alhamdulillah gampil hamil, malahan harus hati-hatiii… dicolek hamil hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  2. Alhamdulillah ya Kang, ini benar-benar daun ubi berbuah anak,
    telat membaca informasi ini, kakak sepupu dan adek sepupuku ada yg belum punya anak dengan usia pernikahan belasan tahun.

    Anaknya ganteng-ganteng Kang *langsung gagal fokus 😀

    Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s