Sop kaki buat ibu

“Han. Kalau nanti kamu sempat kesini lagi, tolong buatkan ibu sop kaki ya…”.

Itu permintaan Emak – panggilanku buat ibu, saat kami ngobrol-ngobrol di bale semen yang membeku karena udara malam yang dingin di kampung Sukamanah, Bogor. Dapur dua kali tiga meter berdinding separuh batako dan separuh kayu itu selalu jadi tempat favorit ngobrol kami berdua. Redup bohlam 5 watt tak lagi sanggup menyembuyikan dinding kayu yang kusam kehitaman karena sisa jelaga dari kompor minyak tanah selama bertahun-tahun. Itu sebelum ibu mendapatkan kompor dan tabung gas mini saat konversi minyak tanah ke gas dulu.

Aku tidak langsung mengiyakan permintaan ibu, kerena lebih mengkhawatirkan kondisi darah tinggi ibu yang cukup serius. Terakhir check-up tekanan darahnya malah mencapai 240/140, Kondisi yang bikin dokternya geleng-geleng kepala, karena ada ibu berusia 80 tahun yang bisa bertahan dalam kondisi seperti itu. Sebetulnya sejak 8 tahun lalu tubuh tuanya memang mulai digerogoti reumatik akut dan darah tinggi, tapi kekuatan dan kesabarannya seperti seolah membuat penyakit itu sama sekali tidak nampak.

Siapa yang pernah menyangka jika obrolan pelepas kangen dua tahun lalu itu adalah pertemuan terakhirku dengan almarhumah. Dan semangkuk sop kaki itu adalah permintaaan terakhirnya, yang tidak sempat aku penuhi. Permintaan yang terlalu sederhana buat seorang ibu yang seumur hidupnya menyembunyikan kerinduan untuk bisa melihat kegembiraan anak lelakinya mulai menapaki bangku sekolah. Memandikan, menyuapinya yang memakaikan baju seragam seperti ibu-ibu yang lain.

Sejak bapak meninggal, aku memang harus hidup terpisah dari Ibu. Mengikuti kakak tiriku yang terpaut 20 tahun lebih tua dan sejak saat itu ku panggil Umi. Sedang ibu sendiri memilih kembali ke rumah Nini di Sukamanah. Hidup menjanda dan melakukan pekerjaan apa saja buat menyambung hidup bersama adikku yang saat itu baru berusia 2 tahun. Melepaskan aku hidup terpisah darinya adalah tindakan yang tak pernah bisa dimengerti oleh seorang anak berusia 6 tahun, yang matanya masih sembab menangisi kepergian bapaknya, yang masih haus kasih sayang ibunya.

“Ibu tega. Ibu kejam, Ibu tidak sayang,Ibu tidak peduli”, kata-kata itu yang sering berulang aku ucapkan, bahkan sampai saat-saat aku menginjak usia remaja. Tak pernah terlintas dalam pikiran polosku saat itu. Ketika aku menikmati secangkir teh manis hangat dan sepiring nasi goreng mungkin ibu sedang tertatih – tatih,menyusuri pematang sawah yang sempit dan licin. Menawarkan jasa sebagai buruh tani harian, sekedar menyambung hidup dari upah nandur dan membersihkan gulma dan rumput liar di sawah milik tetangga.

Sudah pasti kesabaran dan keteguhan hatinya yang sekuat karang-lah yang dulu membuatnya sanggup melepaskan anak lelakinya hidup terpisah. Pada saat kelopak matanya masih bengkak . Pada saat pusara bapak masih basah. Pada saat hatinya masih remuk ditinggalkan suami yang dicintainya. Semua itu demi tujuan mulia yang diimpikannya. Melihat anaknya mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih layak walaupun harus mengesampingkan kerinduannya sendiri.

Ahhh…. selalu saja ada tetes airmata, setiap aku melihat tenda penjual sop kaki di jalanan. Kesedihan yang sering membuatku berandai-andai. Seandainya, aku bisa sedikit lebih ‘ngeh’ dan tanggap memenuhi permintaannya yang tidak biasa. Ini permintaan yang tidak biasa, buat Ibu yang lebih sering menolak saat aku dan istri mengajaknya makan di rumah makan yang rada mewah menurut ukuran kami – aku dan istri. “Enaknya itu kan cuma 5 Senti. Sepanjang lidah dan tenggorokan. Setelah lewat tenggorokan dan nyampe perut. Rasanya sama saja dengan rebusan daung singkong yang Emak masak” candanya.

Sepanjang hidupnya, Ibu memang sangat bersahaja. Tidak pernah menuntut dan meminta macam-macam, bahkan setelah aku bekerja dan berkeluarga. Uang belanja tidak seberapa yang biasa kuberikan buatnya malah jarang digunakannya. Selalu disimpannya dan dibelikan barang yang produktif seperti ayam dan kambing. Terkadang malah ditawarkannya kembali kepadaku, “Han, kelihatannya kamu sedang kesulitan. Kamu bisa pake uang tabungan Ibu jika mau”.

Duchhh, terlalu sulit memang bersandiwara di depan ibu, walaupun aku tidak pernah hidup satu atap lagi dengannya sejak ayah meninggal. Tapi Ibu selalu tahu kesulitanku bahkan ketika aku belum berkata sepatah katapun. Ibu selalu jadi tempatku melarikan dari dari segala kepenatan dan beratnya kehidupan. Bahkan saat-saat aku sudah jadi ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa.

Itulah ibu. Tidak pernah berubah sedikitpun, yang dulu selalu menyisihkan upahnya yang tidak seberapa dari upah hariannya sebagai buruh tani. Ini dilakukannya sebagai bekal untuk mengembalikanku ke rumah Umi saat-saat aku kabur karena tidak tahan memendam kerinduan kepadanya.

Ibu selalu merupakan tempat aku berlindung seperti pohon apel yg sering kuambil buahnya dulu, pohon apel yang ranting-rantingnya juga sudah kujadikan bekal hidupku. Pohon apel yang batang tua dan keroposnya masih saja jadi tempat paling nyaman buat menyandarkan tubuhku saat aku dilanda kesulitan hidup. Bahkan sampai detik-detik terakhir dalam kehidupannya.

Ibu yang sampai detik akhir hidupnya masih rajin mengundang tetangga untuk berkumpul setiap malam jum’at, dengan hidangan seadanya. Sekedar berkirim fatihah dan Yasin buat Bapak yang masih sangat dicintainya walaupun sudah meninggalkannya lebih dari 40 tahun.

Satu ritual kecil yang langgeng dilakukan ibu sampai akhir hayatnya adalah bergegas menyiapkan satu ceret teh panas beraroma melati saat jemaah shalat subuh berakhir di mushalla depan rumah. Menawarkannya kepada setiap jemaah yang lewat…. “Mampir Jang….Mampir kang haji, mangga ngaleu’eut bilih teu katirisan”– Mampir dek….mampir kang haji mari minum, biar gak kedinginan.

Memang, Sop kaki buatanku itu tak pernah bisa dinikmatinya, karena Allah memanggilnya pada tanggal 11 Mei 2012 dan InsyaAllah menyiapkan hidangan yang labih lezat untuknya. Ibu dipanggil dalam sujud shalat malamnya jam 11.30 malam, masih berbalut mukena,dengan airmata yang membasahi sajadahnya. “Sebulan lebih sebelum meninggalnya… ibu lebih sering menangis dan terus menerus beristigphar” itulah yang aku dengar dari tetangga-tetangga di kampung.

“ Ya, Allah…… Jika engkau pernah memasukkan seorang wanita tua ke sorgaMU karena memberi minum anjing yang kehausan, kiranya engkau berkenan memasukkan Ibuku ke surgaMU karena sedekah teh hangatnya buat jamaah shalat subuh yang kedinginan”

 

Artikel ini diikut sertakan pada Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudra

Hati-Ibu-Seluas-Samudera-300x295

Iklan

10 pemikiran pada “Sop kaki buat ibu

  1. Ping balik: BePlus Blog | Akhli ibadah ini difitnah berzina karena mengabaikan ibu

  2. Ibu dimanapun selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Membacanya jadi mrebes mili ingat ibunda.
    Aamiin, semoga beliau berkumpul di surga bersama belahan jiwanya.

    Suka

  3. menyentuh…,mengharukan, bahkan saya baca lebih dari sekali.
    pasti ibuknya tersenyum menyaksikan panjenengan menyelesaikan tulisan sambil meneteskan airmata.
    btw thanks pernah ngingetin saya untuk lebih berbakti ke ibukku yang sepuh
    good luck maaas

    Suka

  4. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    Suka

  5. Aamiin…aamiin..aamiin Ya Allah..

    Terharu membacanya, aaah jadi semakin kangen sama Momih di Bandung.. Semoga Allah senantiasa melimpahkan lindungan dan nikmat sehat untuk beliau di Bandung..aamiin.

    Untuk almarhumah ibunda tercinta, senoga Allah mengampuni segala dosanya, diterima semua amal baiknya, dijauhkan dari siksa kubur dan ditempatkan di sisi Allah … aamiin.

    إِنْ شَاءَ اللّهُ doa anak yg sholeh akan dikabulkan.

    Suka

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s