Bersedekahlah sebelum dilarang.

sedekah

Seorang kakek berusia 90 tahun terancam dipenjara sampai 60 hari karena beredekah dengan memberi makan orang miskin. Hal ini terjadi, menyusul diberlakukannya peraturan yang melarang warga membagikan makanan kepada orang miskin di tempat umum. Sang kakek juga terancam denda sebesar kurang lebih 6 juta rupiah dan harus menghabiskan hari-hari nya di penjara setelah polisi menangkapnya ketika dia sedang membagikan sedekahnya berupa makanan di taman.

Dia ditangkap bersama dengan dua orang pendeta dari gereja di tempat tempat penampungan tunawisma yang biasa membagikan makanan gratis dari dapur umumnya setiap minggu. “Salah seorang polisi mendatangi saya dan berteriak; “Jatuhkan piringnya sekarang”, seolah-olah saya sedang memegang pistol” cerita pak tua ketika diwawancarai media.

“Para tuna wisma itu tak memiliki apapun dan merupakan kelompok masyarakat yang paling miskin. Tanpa tempat tinggal dan tidur beratapkan langit. Bagaimana mungkin kita berpaling dari mereka. Sedekah saya adalah salah satu bukti kepedulian pada mereka” lanjutnya

Kejadian yang terjadi pada November 2014 lalu itu, bukan yang pertama kalinya. Pada tahun 1999, Arnold Abbott – kakek dermawan dan suka bersedekah yang saya ceritakan diatas pernah menuntut dewan kota tempatnya tinggal setelah dia dilarang membagikan sedekah berupa makanan kepada kaum miskin di pinggiran pantai di kota tempat tinggalnya. Pengadilan memutuskan bahwa pelarangan itu melanggar konstitusi.

Untung apa yang saya ceritakan diatas tidak (belum??) terjadi di Indonesia. Tapi terjadi di Port Lauderdale, Florida-Amerika Serikat. Pelarangan yang sama juga direncanakan direncanakan segera diberlakukan di bererapa kota di Amerika lainnya di Seattle, Los Angeles, Phoenix, Dallas dan Philadelphia. Terdorong pelarangan seperti inilah saya menganjurkan anda untuk lebih banyak bersedekah sebelum dilarang. Walaupun, saya sangat tidak berharap peraturan seperti ini di berlakukan di Indonesia.

Sungguh kenyataan yang sangat menyedihkan jika peraturan yang dibuat dengan dalih kebersihan kota,pariwisata dan perkembangan ekonomi justru malah meminggirkan kaum miskin dan memper-sempit kesempatan kita untuk melakukan sedekah. Saya yakin betul agama manapun sangat menganjurkan bersedekah dan menyantuni kaum duafa.

Ironisnya, walaupun banyak menuai pro dan kontra, peraturan serupa juga diberlakukan di di Malaysia. Negara jiran tetangga kita yang juga mayoritas penduduknya muslim. Menteri Wilayah Persekutuan, Tengku Adnan Tengku Mansor tidak membenarkan lagi wargakota memberi sembarang jenis sumbangan atau sedekah kepada peminta sedekah dan dalam masa yang sama juga melarang kumpulan NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat) Dapur Jalanan memberi makanan kepada golongan kutu rayau, fakir miskin dan gelandangan. Alasan yang diberikan Tengku Adnan yang dipangggil Ku Nan ialah untuk membersihkan Kuala Lumpur daripada semua jenis peminta sedekah, kutu rayau dan gelandangan yang disifatkannya sebagai sampah yang mengotorkan kota. Demikian yang saya kutip dari blog teman di Malaysia.

Rasanya kekhawatiran saya cukup berasalan jika kita di Indonesia juga bisa mengalami hal serupa mengingat pemda DKI Jakarta telah menerbitkan Perda Ketertiban Umum No 8/2007. Pada pasal 40 c disebutkan dilarang membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil. dengan sangsi ancaman pidana kurungan paling singkat 10 (sepuluh) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari atau denda paling sedikit Rp. 100.000,- (Seratus Ribu Rupiah) dan paling banyak Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah).Perda ini juga telah memakan korban dengan penangkapan 4 warga yang tertangkap memberikan uang di lampu merah

Bukan tidak mungkin, dengan alasan kebersihan kota, pariwisata dan peningkatan ekonomi Perda-perda yang lain juga akan menyusul. Setelah membaca tulisan ini saya berharap anda mengerti mengapa saya menganjurkan bersedekah-lah sebelum dilarang.

Iklan

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s