Anda suka Selfie? Ketahui baik dan buruknya disini

picture credit to pinterest.com

picture credit to pinterest.com

“SELFIE”, Pengertian, Sejarah dan dampak psikologisnya

Perkembangan Selfie

Munculnya genersi Smartphone dengan kamera depan bisa jadi merupakan awal meningkatnya budaya selfie yang berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ditengah masyarakat. Cuma dibutuhkan beberapa detik untuk mengambil photo dan menyebarkannya di media sosial yang akan dilihat oleh ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan orang pada saat yang sama di tempat dan situasi yang berbeda. Kalau anda melanjutkan membaca, anda akan tahu baik dan buruknya “Selfie” dalam tulisan berikut.

Kemudahan akses internet dan menjamurnya media sosial menjadikan budaya ini demikian mudah menyebar. Siapa saja bisa melakukan selfie. Mulai dari pembantu rumah tangga, anak sekolah, eksekutif kantoran bahkan selebritis yang photo-photonya sudah sangat sering di muat di media. Rihanna, Justin Bieber, Madonna dan Lady Gaga pun dikenal sebagai selebriti yang suka selfie dan rajin meng-upload photo selfienya di media sosial.

picture credit to mirrordotcodotuk

picture credit to mirrordotcodotuk

Pencarian kata kunci Selfie pada applikasi photosharing Instagram misalnya; menghasilkan 23 juta photo dengan hastag #selfie dan 51 juta photo dengan hastag #me. mulai dari photo si Euis di Cimahi, Bandung sampai photo si Alice di Chicago, Amerika serikat.

Sebetulnya, kepuasan macam apa sih yang didapat orang-orang yang melakukan Selfie ?. hingga banyak yang sangat suka selfie tanpa memperhitungkan dampak baruknya. Bahkan secara tidak langsung sering hampir mencelakakan dirinya sendiri atau orang lain saat berusaha mengambil photo selfie yang sempurna, bahkan tanpa mempertimbangkan tempat dan situasinya. Apakah semata-mata karena keinginan mendapatkan pujian? atau mungkin karena kepuasan yang didapat saat mendapatkan “Like” dan komentar kagum teman-temannya ketika photonya dibagikan di media sosial?. Atau sekedar mengikuti trend tanpa mengetahui baik dan buruknya selfie?.

Lihatlah beberapa headline surat khabar yang memberitakan kejadian-kejadian akibat keranjingan selfie di beberapa tempat :

Berniat selfie bersama keluarganya, seorang pria malah mengakibatkan ibunya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan maut

“Akbat selfie di dalam mobil, dua wanita cantik kecelakaan”

Pengertian Selfie

Sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya kita bahas dulu mengenai apa yang dimaksud dengan Selfie. Menurut Wikipedia 2014 Selfie adalah kependekan dari “Self-potrait photograph” atau photo yang diambil sendiri, biasanya diambil dengan kamera telepon genggam atau kamera genggam dan diambil secara vertical.

Sejarah Selfie

Jika kita bicara mengenai siapa dan photo selfie mana yang pertama?. mungkin kita bisa mengacu pada photo Robert Cornelius – Sang penemu camera pada tahun 1839, tapi hal ini juga masih banyak menjadi bahan perdebatan, termasuk keraguan yang diungkapkan oleh Dr. Michael Pritchard; Akhli sejarah sekaligus direktur Royal Photographic Society yang meragukan apakah photo Robert Cornelius mengambil photo itu sendiri atau diambil dengan bantuan asistennya.

“Nampaknya photo selfie pertama baru lahir beberapa tahun kemudian, mengingat kamera dengan timer otomatis baru diketemukan sekitar tahun 1880. beberapa kamera juga dilengkapi dengan kabel panjang yang memungkinkan penggunanya menekan tombol dari jarak yang dibutuhkan”, unggkap Dr. Michael Pritchard.

Era Photocard, Photobooth dan Polaroid

Kenyataaannya, jauh sebelum ditemukannya internet, berbagai photo diri juga sudah banyak dilakukan walaupun penyebarannya tentu saja dengan cara dan media yang berbeda dari yang terjadi di masa kini. Sekitar tahun 1860 an ada kebiasaan yang cukup populer untuk saling berbagi photocard berukuran mini. Kecenderungan ini berlanjut dengan diperkenalkannya kamar photo mini (Photo booth) pada tahun 1880. Photobooth juga sempat merebak di Indonesia dan sangat mudah dijumpai di pojok-pojok mall dan pusat perbelanjaan dan banyak dimanfaatkan para remaja kita dalam melampiaskan ekpressi narsisnya.

Tidak lengkap rasanya jika jika bicara mengenai sejarah selfie tanpa bicara mengenai kelahiran Polaroid pada tahun 1948 walaupun awal kemunculannya belum betul-betul bisa menghasilkan photo instan. Sampai mereka menyempurnakan produknya sehingga benar-benar bisa menghasilkan photo instan dan bisa digunakan untuk mengambil photo dari jarak sejangkauan tangan.

Selfie dan sifat narsis.

Kemudahan aksses media sosial dimasa sekarang meyebabkan kita lebih sadar penampilan yang membawa kita pada obsesi untuk tampil sempurna dan dan sifat narsis pada beberapa orang. Orang-orang yang narsis menikmati kebahagian yang luar biasa saat tampilan phisik, Keberhasilan dan suksesnya mendapat perhatian dari orang lain. Mereka sering mendapatkan kepuasan dan kesenangan dari rasa kagum orang lain atas penampilan phisiknya. Sarana untuk mendapatkan kepuasan tersebut pada masa kini dicapai dengan memamerkan photo-photo selfie-nya di Facebook, Path, Twitter atau Instagram.

Dampak buruk Selfie

Obsesi selfie yang belebihan juga bisa mengakibatkan kelainan jiwa yang serius seperti yang dilansir oleh media online mirror.co.uk. Danny Bowman seorang remaja beruia 19 tahun menjadi demikian terobsesi untuk ber-selfie-ria sehingga dia bisa menghabiskan 10 jam tiap harinya dengan mengambil kurang lebih 200 photo dirinya demi untuk mendapatkan photo selfie yang sempurna.

Sebuah obsesi yang dipicu oleh keinginan untuk membuat para remaja putri tertarik kepadanya. Juga kepercayaan palsu bahwa penampilan yang sempurna adalah modal utama untuk mendapatkannya. Karena gagal mendapatkan photo selfie yang dianggapnya sempurna dia mencoba melakukan bunuh diri dengan meminum pil hingga overdosis. Beruntung dia bisa diselamatkan oleh Ibunya.

“Saya terus menerus berusaha mendapatkan photo selfie yang sempurna dan saat saya tidak juga mendapatkannya, saya ingin segera mengakhiri hidup. Saya kehilangan teman, pendidikan, kesehatan dan hampir saja kehilangan hidup saya”, katanya.

Saat kita mendapatkan sesuatu yang hebat dan patut dirayakan – apa yang biasa kita lakukan? Kita ber-selfie-ria dan meng-uploadnya agar tiap orang bisa melihatnya. Menyenangkan rasanya mendapati orang terkagum-kagum menyaksikan keberhasilan kita. Tapi dunia ini tidak beredar disekelilingmu sendirian, harus selalu ada batasan antara yang sedekar ingin berbagi atau menyombongkan diri pada tiap orang disetiap kesempatan.

Selfie dan Eksplorasi diri.

Berita baiknya Selfie juga bukan sekedar narsis. Ia juga bisa jadi sarana untuk membantu meningkatkan ekplorasi dan ekpresi diri. Photo Sefie yang mendapatkan banyak komentar positif dan disukai (like) bisa membantu remaja untuk meningkatkan rasa percaya dirinya tersambung dengan dunianya.

Menurut Today Health .edisi 2014, Selfie yang dilakukan dalam batas-batas yang wajar bisa meningkatkan rasa menghargai diri sendiri dan meningkatkan pemberdayaan diri. Selfie juga bisa meningkatkan penampilan diri pelakunya karena bisa menyesuikan diri dengan tampil sesuai dengan yang dapat diterima dan disukai secara luas. Jadi buat anda yang suka selfie, tetap ingat baik buruknya baik sebelum mencari lokasi selfie yang sempurna maupun dampak psikologisnya. Jangan sampai karena photo selfie anda kurang dapat like dan komen yang positif lantas anda jadi depresi dan putus asa.

Iklan

Satu pemikiran pada “Anda suka Selfie? Ketahui baik dan buruknya disini

  1. Ping balik: Makin Selfie dengan Selfie Toaster - Gaya Gadget

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s