Haruskah menunggu sempurna untuk menyampaikan kebaikan.

Saya lagi galau brow and sist.

Ada semacam perasaan ragu yang menggangu dan membuat  saya  sering termanggu setiap akan menulis nasihat-nasihat atau inspirasi islami untuk blog saya.Ini keraguan suputar pertanyaan yang sering terasa mengganggu; Haruskah menunggu sempurna untuk menyampaikan kebaikan?” .

Semacam keraguan yang mengentalkan pikiran seperti sagu bahan cilok yg tercampur air panas hingga sering membuat ide-ide saya yang sebelumnya deras mengalir seperti hujan di bulan desember menjadi kering dan mampet seperti kemarau di bulan Maret.

Keraguan itu muncul karena saya merasa belum cukup layak untuk menyampaikan nasihat-nasihat islami. Masih jauh dari karakter shaleh, walaupun saya sangat dekat dengan pak Shaleh operator forklift dikantor saya yang bertetangga dengan mpok shaleha penjual gado-gado di dekat kontrakannya.

Bisa jadi keraguan itu muncul karena saya paham kebencian Allah yang sangat besar terhadap hambaNYA yang mengatakan dan menyampaikan  sesuatu yang tidak dilakukannya seperti yang difirmankanNYA dalam al-Quran;
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”(QS. 61:2)

Kadang saya berpikir untuk berhenti menuliskan nasihat-nasihat islami dalam blog saya,tapi kok rasanya ragu ya???; karena bisa aja pikiran-pikiran tersebut merupakan bisikan halus Iblis sang musuh Allah yang bisikannya untuk menggelincirkan manusia jauh lebih lembut dari bisikan mpok Sulis pada suaminya saat meminta tambahan uang beli kopi buat tamunya di ruang tamu.

Repotnya lagi bisikan dan godaan Syetan ini bisa terjadi setiap saat karena dia ada begitu dekat kita, bahkan menurut hadits  Rasulullah SAW dia bisa masuk dalam aliran darah. Saat dalam aliran darah mungkin setan itu jadi seperti santan yang berubah jadi kolesterol jahat dan menghambat langkah-langkah kita untuk melakukan kebaikan. Ngerinya lagi, suatau saat bisa mendarah daging dalam tubuh kita ditambah dengan meng konsumsi makanan makanan yang haram  ke dalam tubuh.

Ada saat dimana keinginan menyampaikan pesan dan peringatan islami itu menjadi sekuat ledakan gunung krakatau, terutama saat mulut-mulut mungil anak TPA di masjid dekat rumah melantunkan surat al-Ashr setiap penutupan pengajian sore.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Diperkuat lagi denngan ayat al-Quran yang lain mengenai kwalitas muslim yang beruntung  dalam firmanNYA; “…dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS:Al-Imran : 104).

Sejatinya, jika setiap orang menunggu sampai dirinya betul-betul bersih dari segala cacat, tak akan ada seorangpun yang sanggup memberikan nasihat buat saudaranya sesama muslim.

Terima kasih jika ada rekan-rekan pembaca yang bisa memberikan saran dan masukannya di kolom komentar. Karena seringan-ringanya menanggung galau lebih berat dari pada memikul segalon air 🙂

Wallahu’alam bis shawab.

 

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 pemikiran pada “Haruskah menunggu sempurna untuk menyampaikan kebaikan.

  1. Ping balik: Sosial Media dalam Kehidupan Kita | BePlus Blog

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s