Kalau Niat Pasti Sempat

Jarum pendek jam dinding di stasiun Bekasi belum genap menunjukkan angka sepuluh saaat seekor nyamuk nemplok di hidung jambuku, ya.. istriku terkadang menyebut hidungku lebih mirip jambu air yang separuh sudah habis disikat codot.

Kembali kehirup kopi hitam mbah Puji, penjual makanan ringan di belakang stasiun Bulan-bulan Bekasi. Mungkin pembaca ada yang tahu mengapa stasiun ini dipanggil stasiun bulan-bulan??. Aku sendiri gak tau, bisa jadi karena pembangunannya di mulai saat bulan purnama atau karena mungkin saat saat tanggung bulan penumpang membludak karena jatah bensin kendaraan pribadinya yang mulai menipis.

Pasti dua-duanya tebakan yang asal asalan karena memang otakku sudah mulai keruh diserang jenuh menunggu satu jam penuh dibangku plastik merah jambu milik mbah Puji – penjual kopi dan makanan ringan di belakang stasiun kereta Bekasi.

Malam ini aku memang sedang menunggu si sulung, anakku yang kuliah di salah satu PTN di Purwokerto. Aku lebih sering menyebutnya UNPAD. Biar sedikit lebih bergengsi, padahal ini plesetan dari UNiversitas PAk Dirman alias UNSOED. šŸ™‚

Suara tukang ojek di sudut pintu keluar stasiun kembali terdengar bersahutan,lebih ramai daripada interupsi anggota dewan yg terhormat saat membahas anggaran “gemuk” di sidang dewan, puluhan penumpang berhamburan dari pintu commuter line Jakarta – Bekasi dengan berbagai ekpresi, ada muka lelah, gelisah, resah, pasrah menanti jemputannya yg belum datang, sebagian memanfaatkan jasa ojek mengantarkannya ke rumah masing masing.

Saat pengojek lain sibuk berburu rejeki, di  sudut lain stasiun, ku lihat seorang tukang ojek malah sibuk menelpon.

“Ah, dasar tukang ojek malas”, itu yang sempat terlintas di pikiranku, namun saat stasiun kembali sepi ku dengar sayup-sayup suaranya membacakan surat at-Takaasur melalui mic telpon genggamnya.

“Al haakumut takaasur, hattaa zurtumul maqoobir“, sayup-sayup bisa kudengar anaknya menirukan bacaan sang ayah di ujung tilpun.

“Diulang nak bacaannya – hatta zurtumul maqoobir”. Subhanallah, rupanya sang tukang ojek sedang menuntun anaknya menghafal surat2 pendek dari juzz 30 lewat handphonenya.

Ada rasa malu dan bersalah yang tiba-tiba menonjok dadaku, di sela-sela kesibukannya yang padat dia masih sempat menuntun anaknya menghapal alqur’an, sementara kita yang punya kehidupan lebih nyaman lebih sibuk menggunakan handphone dan smartphone kita untuk ber-facebook atau ber-twitter ria.

Maafkan aku ya Allah, yang belum bisa mengamalkan ayatmu; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, ……..” (At-Tahrim: 6)

Ampuni aku ya Allah karena belum bisa menjalankan sabda rasulmu Muhammad SAW untuk mengajari keturunan kami kandungan kitab sucimu :

“Didiklah anak-anak kalian dalam tiga perkara:
mencintai Nabimu, mencintai keluarganya dan tilawah al – Quran, sebab orang yang meme-
lihara al-Quran itu berada dalam lindungan singgasana Allah ber-
sama para NabiNya dan orang-orang yang suci, pada hari yang tiada perlindunganNYA.”
(H.R. Ath-Thabrani dari Ali ra.)

Iklan

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s