Perangkap Tikus dan kepedulian sosial

Cara mengajarkan kepedulian sosial kepada anak-anak melalui sebuah cerita

rat-trap

Mungkin anda bertanya, apa sih hubungan antara perangkap tikus dengan kepedulian sosial???. Selintas kalau membaca kata-kata tikus gigi saya memang suka gemeretak geram karena yang terbayang di mata saya sekarang adalah sosok berdasi yang sok aksi dan penuh gengsi membanggakan hasil korupsi yang jelas-jelas bukan untuk sesuap nasi, tapi untuk di ‘sedekahkan’ kepada para artis dan gadis-gadis model yang seksi seperti pada tulisan saya yang terdahulu, Uang tikus dimakan tikus

Di saat kepedulian sosial sudah menjadi barang langka di republik ini, kadang sulit buat saya mengajarkan nilai-nilai kepedulian sosial kepada anak-anak, terlebih pola hidup kota besar yang cenderung makin individualistis mulai dari bangku sekolah sampai dunia kerja yang penuh persaingan. Biasanya kita baru merasa setelah hunian kita dilanda banjir akibat ke kurang pedulian kita terhadap got tetangga yang mampet atau saat salah satu anggota keluarga kita yang terserang demam berdarah karena sikap kurang peduli kita pada lingkungan sekitar yang penuh semak belukar.

Dalam kondisi seperti ini biasanya mengajarkan nilai-nilai kepedulian sosial lewat cerita bisa jadi jauh lebih efektif karena tidak terkesan menggurui dan lebih mudah tertanam di dalam pikiran anak-anak. Beginilah sang ayah memulai ceritanya :

Syahdan, seekor tikus mengintip kegiatan sepasang suami istri petani dari lubang persembunyiannya saat sang petani membuka sebuah bungkusan. si tikus mengkhayalkan makanan enak yang bisa disantapnya nanti malam saat sang petani terlelap tidur, rasa penasarannya berubah jadi rasa takut saat dilihatnya sang petani mengeluarkan perangkap tikus dari bungkusnya.

Dengan penuh rasa takut dia berlari ke halaman rumah dan berteriak “Ada perangkap tikus di dalam rumah, perangkap tikusssssss!!!!!”. bermaksud memberitahukan penghuni yang lain tentang bahaya yang dihadapinya. Sang ayam yang sedang asyik mematuk jagung cuma mengangkat kepala sesaat dan berucap “Maafin gua tuan tikus, gua sama sekali kagak terganggu dengan benda begituan, itu masalah elo kaleee!!!”

Sang tikus yang panik berlari ke arah kambing dan berteriak panik, berharap mendapat bantuan “mbek!!, ada jebakan tikus di dalam rumah”. Sang kambing cuma menoleh sambil menyahut “Jebakan tikus di dalam rumah????, Maafin gua kus, Gua gak bisa berbuat apa-apa buat bantu loe, tapi loe jangan lupa berdoa biar selamat, gua juga pasti bantu, tapi cuma bisa bantu doa”

Pucat dan diliputi kecemasan sang tikus menceritakan masalahnya kepada sapi yang sedang tiduran di kandangnya. lagi-lagi dia cuma mendapat ejekan “Jebakan tikus???? wooooow, kayaknya elo dalam bahaya deh”

Dengan gundah dan kepala tertunduk, si tikus kembali masuk ke rumah dan memutuskan untuk menghadapi masalahnya sendiri dari pada minta tolong kepada kawan-kawannya yang tidak peduli. Menjelang tengah malam, terdengar suara gaduh, seperti suara jebakan tikus mengenai korbannya.

Istri pak tani bergegas keluar untuk memeriksa jebakannya, dalam kegelapan dia tidak melihat seekor ular berbisa yang ekornya terjepit jebakan. Tanpa diduga sang ular menggigit istri petani. Mendengar jeritan istrinya sang petani terbangun d an bergegas membawanya ke rumah sakit.

Sang istri pulang ke rumah dalam keadaan demam karena bisa ular terlanjur masuk jauh ke dalam aliran darahnya. Para tetangga menyarankan agar mengobati demam istrinya dengan sop ayam,akhirnya sang ayam pun dipotong. Sakit istrinya tidak juga berkurang sehingga para tetangga dan saudara2 sang petani bergiliran menengoknya. Untuk menjamu para tamunya yang petani meminta putranya memotong kambing dan menghidangkan sate kambing buat makan siang para tamunya.

Tiga hari berlalu, sakit istrinya tidak juga membaik dan pada hari keempat istrinya meninggal dunia di iringi tangis keluarga dan para tetangganya. Terakhir, Sang sapi, hewan ternak kesayangan petani pun harus di potong untuk acara tahlilan sang istri.

“Anakku, kapanpun kamu mendengar keluarga atau temanmu sedang  menghadapi kesulitan cobalah berusaha membantu, karena bisa jadi kesulitan itu juga akhirnya akan menyusahkanmu seperti ayam, kambing dan sapi yang tidak peduli pada tikus yang sedang kesusahan”; demikian sang ayah mengakhiri ceritanya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Perangkap Tikus dan kepedulian sosial

Terima kasih sudah memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s